![]() |
| Bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Lebanon, Bpk Drs. Dimas Samodra Rum, MBA dan Ibu |
Tanggal 17 di bulan Agustus, merupakan
tanggal yang istimewa dan bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada
tanggal inilah terjadi moment penting dikumandangkannya kemerdekaan Indonesia
tepatnya di tahun 1945. Kini seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tanggal dan
bulan itu seluruh rakyat Indonesia mengadakan perayaan kemerdekaan dengan versi
dan tradisi kelompok, golongan maupun perorangan masing-masing.
Khusus untuk institusi militer, lembaga
pemerintah termasuk lembaga-lembaga pendidikan, perayaan ulang tahun
kemerdekaan tersebut pada umumnya senantiasa diiringi dengan diselenggarakannya
upacara penaikan bendera merah putih. Demikian pula bagi kami, duta bangsa yang
tergabung dalam Kontingen Garuda yang sedang bertugas dalam misi perdamaian PBB
di bumi Lebanon, pada tanggal dan bulan bersejarah tersebut tidak lupa untuk
menyelenggarakan upacara penaikan bendera merah putih. Upacara ini dipusatkan
di dua tempat terpisah yang menjadi basis prajurit TNI di Lebanon, di Adchit Al
Qusyair yang menjadi markas batalyon Indonesia di Lebanon dan Soedirman Camp,
Green Hill, Naqoura, South Lebanon.
Selain upacara yang dipusatkan di dua tempat
terpisah tersebut, sebagian dari kami diperintahkan untuk mewakili Kontingen
Garuda mengikuti upacara penaikan bendera merah putih di KBRI di Beirut,
Lebanon. Aku dan seorang rekanku dari Satgas MCOU kebetulan yang ditunjuk
sebagai perwakilan.
Karena jarak Naqoura-Lebanon cukup jauh dan
memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan darat, maka kami
berangkat beramai-ramai dari Naqoura pada pukul 05.00 AM, sedangkan upacaranya
sendiri direncanakan pada pukul 09.00 AM. Karena kami cuma menjadi perwakilan
upacara maka perlengkapan yang kami bawa tidak terlalu banyak, yakni satu
seragam loreng gurun dan sepatunya yang menempel di badan, kaca mata anti panas
matahari, scarf biru UN, sarung tangan serta senjata organik perorangan (aku
memilih membawa pistol yang lebih simpel ketimbang SS-1 yang aku tinggal di
korimek). Selain perlengkapan perorangan tersebut kami juga diharuskan membawa
helm biru bertuliskan UN serta life jacket yang beratnya cukup lumayan yang
berguna untuk melindungi bagian tubuh vital kami dari serangan peluru tajam.
Tidak lupa pula untuk mengabadikan kegiatan penting di Beirut nanti, aku
sengaja membawa kamera foto Unifil, Canon
EOS-1Ds Mark III pinjaman dari
kantor.
![]() |
| Persiapan Upacara di halaman Kedubes RI Lebanon di Beirut |
Tepat jam 05.00 AM, kami pun berangkat secara
beriringan dengan berkonvoi empat mobil di mana salah satu mobil ditumpangi
pula Komandan Kontingen Garuda di Lebanon Kolonel Karmin Suharma yang menjadi
chief convoi. Karena Beirut merupakan kawasan yang berada di luar area operasi
Unifil maka semua bendera UN yang berada di masing-masing mobil kami dicopot
agar tidak menyolok, serta menghindari “gangguan” di tengah jalan terutama
setelah melewati Litani (sungai Litani) yang menjadi batas terluar area operasi
Unifil di Lebanon.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam
yang cukup melelahkan, tepat pada pukul 07.35 AM, rombongan kami mulai memasuki
kawasan kedutaan besar RI di Beirut, Lebanon, tepatnya di Presidential Palace
Avenue, Rue 68 Sector 3, No. 3237 (P.O.BOX 4007) Baabda, Lebanon (kalau yang
mau kontak ke nomor Phone : (961-5) 924-682, 924-683, 924-676 Fax : (961-5)
924-678 Email : indobey@cyberia.net.lb Website : www.kbri-beirut.org).
Tidak seperti kawasan Lebanon pada umumnya,
kawasan KBRI di Beirut ini cukup nyaman dengan pohon-pohon tinggi yang cukup
rindang. Letaknya berada di ketinggian dengan beberapa lembah berpohon lebat di
dalamnya. Bahkan di belakangnya persis terdapat dataran rendah yang memiliki
pemandangan alam yang cukup indah. Bila naik ke lantai teratas gedung ini
(lantai lima), kemudian pandangan mata di arahkan ke sebelah kiri maka terhampar
luas pemandangan kota Beirut yang dipadati dengan gedung-gedung pencakar
langitnya.
Terharu Melihat Merah
Putih
![]() |
| Pengibaran Merah Putih |
Bagi prajurit TNI, upacara pengibaran bendera
merah putih merupakan sesuatu yang sudah biasa karena rutin dilaksanakan dalam
berbagai kesempatan di satuan maupun tempat lain. Begitupun saat melihat
bentangan kain segi empat bercorak merah dan putih dengan seutas talinya
perlahan-lahan merayap naik ke puncak tertinggi tiang panjang terbuat dari
besi, semuanya dianggap sesuatu yang biasa. Tetapi kondisi ini berbeda saat
kami mengikuti upacara penaikan bendera di KBRI Beirut Lebanon ini. Saat itu
sebagian petugas upacara dari personel Satgas Indobat mulai dari Komandan
Upacara hingga petugas penaikan bendera. Sedangkan yang bertindak selaku
Inspektur Upacara adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik
Indonesia untuk Lebanon bapak Drs. Dimas Samodra Rum, MBA.
![]() |
| Penghormatan kepada Merah Putih |
Saat ketiga orang petugas penaik bendera
melaksanakan tugasnya menaikkan bendera merah putih secara perlahan-lahan
menyesuaikan tempo lagu Indonesia Raya, menurutku ada sesuatu yang membuat
hatiku tercekat dan terharu. Keterharuanku ini aku yakin karena aku
membayangkan betapa bahagianya para pahlawan pendiri kemerdekaan Indonesia
melihat bendera yang dulu mereka perjuangkan untuk berkibar dengan taruhan jiwa
dan raganya, kini berkibar di negeri orang, negeri sarat konflik, negeri di
mana lebih dari seribu prajurit TNI juga ikut bergabung dalam misi perdamaian
PBB sekaligus memperjuangkan harkat dan martabat merah putih.
Keterharuanku ini ternyata cukup beralasan
karena beberapa orang yang ikut dalam penaikan bendera merah putih itu,
ternyata merasakan sesuatu yang sama. Hal ini aku ketahui setelah aku
menanyakan kepada beberapa orang dari rekan Satgas Garuda usai upacara penaikan
bendera tersebut. Mereka juga merasa terharu saat detik-detik penaikan bendera
merah putih.
Jumpa dengan
Mahasiswa dan TKI
Selain rekan-rekan dari Satgas Garuda yang
bertugas di Lebanon, dalam upacara penaikan bendera di KBRI Beirut, Lebanon,
hadir pula beberapa peserta upacara undangan khusus dari Kedubes yakni dari
kalangan mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Lebanon serta
sejumlah TKI yang mencari nafkah di bumi Lebanon ini.
Karena kangen lama tak berjumpa dengan
kalangan mahasiswa (maklum karena penulis pernah juga menjadi mahasiswa di tiga
universitas yang berbeda), saat acara ramah tamah sembari menyantap menu khas
lndonesia yang disiapkan pihak KBRI, ayam goreng, ikan tongkol dan
“urab-uraban”, aku menyempatkan berbincang-bincang dengan sebagian dari mereka.
Dan dari keterangan mereka inilah aku mendapatkan sejumlah informasi penting
tentang kehidupan mahasiswa di Lebanon ini.
Salah satu di antara mereka tersebut, sebut
saja Ahmad Husein, salah satu mahasiswa Indonesia asal Aceh yang kini tercatat
sebagai mahasiswa jurusan Dakwah di Beirut Islamic University, Lebanon. Menurut
pemuda berperawakan kurus ini, sudah kali kedua ia mendapat undangan kehormatan
Kedubes RI di Beirut untuk mengikuti upacara tujuhbelasan. Sedangkan terkait
dengan kondisi mahasiswa Indonesia yang ada di Lebanon, menurutnya sebagian
besar berbekal bea siswa meski ada beberapa di antaranya dengan menggunakan
beaya pribadi. “ Secara umum mereka ini ada yang kuliah di Lebanese American University, Jamiah Al-Azhar, Global
University dan Beirut
Islamic University” katanya sembari diamini oleh rekan-rekannya yang saat itu
ikut berbincang-bincang dengan kami.
![]() |
| Sebagian Mahasiswa Indonesia yang ada di Lebanon |
![]() |
| Foto bersama dengan Dubes dan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Lebanon |
Bagaimana dengan sistem pembelajaran dan
kehidupan sehari-hari di Lebanon? Menurut mereka sistem pendidikan di Lebanon
untuk tingkat universitasnya hampir sama, meski secara umum masih kalah baik
dan profesional dibandingkan dengan kuliah di tanah air. “ Sebagian perguruan
tinggi di sini masih menggunakan sistem paket dengan sistem belajar hafalan,
sedangkan sebagian lagi sudah menggunakan sistem SKS seperti di Indonesia “
kata Ansori, kolega Husein dari kampus yang sama. “Untuk kehidupan mahasiswa di
sini sebenarnya dikatakan enak yach enak, tidak enak yach memang terkadang
kurang mengenakkan “ lanjutnya. Menurutnya yang terkadang membuat tidak enak
adalah beaya hidup yang cukup mahal dan kurang bisa terjangkau bila sang
mahasiswa berasal dari keluarga yang pas-pasan serta tidak ada usaha lain
selain menunggu kiriman dari tanah air. “ Terkadang susah mas di sini. Mau
jalan, beaya angkot mahal, mau minum termasuk minum aqua pun sudah mahal, belum
lagi jajanan maupun makanan yang tidak cocok dengan selera kita. Akhirnya
terpaksa kita benar-benar fokus ke pendidikan dan belajar, daripada jalan-jalan
atau makan-makan yang berbeaya besar dan menguras jatah dapur kita” katanya
yang kembali diamini oleh rekan-rekannya.
Mendengar keterangan mereka tersebut, aku
hanya bisa sekedar memberi nasehat untuk tetap fokus pada pendidikan dan bisa
menjaga diri baik-baik agar apa yang mereka cita-citakan dapat tercapai dengan
baik dan sempurna. Sebenarnya aku ingin berbincang-bincang agak lama dengan
mereka, namun karena waktu yang tidak mengizinkan di mana aku harus segera kembali
ke Naqoura, maka aku pun segera pamit kepada mereka untuk bergabung dengan
rombonganku.
***






No comments:
Post a Comment