Sunday, August 25, 2013

Catatan ke-44: Terharu Melihat Merah Putih Berkibar di Lebanon



Bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Lebanon, 
Bpk Drs. Dimas Samodra Rum, MBA dan Ibu
 Tanggal 17 di bulan Agustus, merupakan tanggal yang istimewa dan bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal inilah terjadi moment penting dikumandangkannya kemerdekaan Indonesia tepatnya di tahun 1945. Kini seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tanggal dan bulan itu seluruh rakyat Indonesia mengadakan perayaan kemerdekaan dengan versi dan tradisi kelompok, golongan maupun perorangan masing-masing.
Khusus untuk institusi militer, lembaga pemerintah termasuk lembaga-lembaga pendidikan, perayaan ulang tahun kemerdekaan tersebut pada umumnya senantiasa diiringi dengan diselenggarakannya upacara penaikan bendera merah putih. Demikian pula bagi kami, duta bangsa yang tergabung dalam Kontingen Garuda yang sedang bertugas dalam misi perdamaian PBB di bumi Lebanon, pada tanggal dan bulan bersejarah tersebut tidak lupa untuk menyelenggarakan upacara penaikan bendera merah putih. Upacara ini dipusatkan di dua tempat terpisah yang menjadi basis prajurit TNI di Lebanon, di Adchit Al Qusyair yang menjadi markas batalyon Indonesia di Lebanon dan Soedirman Camp, Green Hill, Naqoura, South Lebanon.
Selain upacara yang dipusatkan di dua tempat terpisah tersebut, sebagian dari kami diperintahkan untuk mewakili Kontingen Garuda mengikuti upacara penaikan bendera merah putih di KBRI di Beirut, Lebanon. Aku dan seorang rekanku dari Satgas MCOU kebetulan yang ditunjuk sebagai perwakilan.
Karena jarak Naqoura-Lebanon cukup jauh dan memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan darat, maka kami berangkat beramai-ramai dari Naqoura pada pukul 05.00 AM, sedangkan upacaranya sendiri direncanakan pada pukul 09.00 AM. Karena kami cuma menjadi perwakilan upacara maka perlengkapan yang kami bawa tidak terlalu banyak, yakni satu seragam loreng gurun dan sepatunya yang menempel di badan, kaca mata anti panas matahari, scarf biru UN, sarung tangan serta senjata organik perorangan (aku memilih membawa pistol yang lebih simpel ketimbang SS-1 yang aku tinggal di korimek). Selain perlengkapan perorangan tersebut kami juga diharuskan membawa helm biru bertuliskan UN serta life jacket yang beratnya cukup lumayan yang berguna untuk melindungi bagian tubuh vital kami dari serangan peluru tajam. Tidak lupa pula untuk mengabadikan kegiatan penting di Beirut nanti, aku sengaja membawa kamera foto Unifil, Canon EOS-1Ds Mark III pinjaman dari kantor.
Persiapan Upacara di halaman Kedubes RI Lebanon di Beirut
Tepat jam 05.00 AM, kami pun berangkat secara beriringan dengan berkonvoi empat mobil di mana salah satu mobil ditumpangi pula Komandan Kontingen Garuda di Lebanon Kolonel Karmin Suharma yang menjadi chief convoi. Karena Beirut merupakan kawasan yang berada di luar area operasi Unifil maka semua bendera UN yang berada di masing-masing mobil kami dicopot agar tidak menyolok, serta menghindari “gangguan” di tengah jalan terutama setelah melewati Litani (sungai Litani) yang menjadi batas terluar area operasi Unifil di Lebanon.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam yang cukup melelahkan, tepat pada pukul 07.35 AM, rombongan kami mulai memasuki kawasan kedutaan besar RI di Beirut, Lebanon, tepatnya di Presidential Palace Avenue, Rue 68 Sector 3, No. 3237 (P.O.BOX 4007) Baabda, Lebanon (kalau yang mau kontak ke nomor Phone : (961-5) 924-682, 924-683, 924-676 Fax : (961-5) 924-678 Email : indobey@cyberia.net.lb Website : www.kbri-beirut.org).
Tidak seperti kawasan Lebanon pada umumnya, kawasan KBRI di Beirut ini cukup nyaman dengan pohon-pohon tinggi yang cukup rindang. Letaknya berada di ketinggian dengan beberapa lembah berpohon lebat di dalamnya. Bahkan di belakangnya persis terdapat dataran rendah yang memiliki pemandangan alam yang cukup indah. Bila naik ke lantai teratas gedung ini (lantai lima), kemudian pandangan mata di arahkan ke sebelah kiri maka terhampar luas pemandangan kota Beirut yang dipadati dengan gedung-gedung pencakar langitnya.

Terharu Melihat Merah Putih
Pengibaran Merah Putih
Bagi prajurit TNI, upacara pengibaran bendera merah putih merupakan sesuatu yang sudah biasa karena rutin dilaksanakan dalam berbagai kesempatan di satuan maupun tempat lain. Begitupun saat melihat bentangan kain segi empat bercorak merah dan putih dengan seutas talinya perlahan-lahan merayap naik ke puncak tertinggi tiang panjang terbuat dari besi, semuanya dianggap sesuatu yang biasa. Tetapi kondisi ini berbeda saat kami mengikuti upacara penaikan bendera di KBRI Beirut Lebanon ini. Saat itu sebagian petugas upacara dari personel Satgas Indobat mulai dari Komandan Upacara hingga petugas penaikan bendera. Sedangkan yang bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Lebanon bapak Drs. Dimas Samodra Rum, MBA.
Penghormatan kepada Merah Putih
Saat ketiga orang petugas penaik bendera melaksanakan tugasnya menaikkan bendera merah putih secara perlahan-lahan menyesuaikan tempo lagu Indonesia Raya, menurutku ada sesuatu yang membuat hatiku tercekat dan terharu. Keterharuanku ini aku yakin karena aku membayangkan betapa bahagianya para pahlawan pendiri kemerdekaan Indonesia melihat bendera yang dulu mereka perjuangkan untuk berkibar dengan taruhan jiwa dan raganya, kini berkibar di negeri orang, negeri sarat konflik, negeri di mana lebih dari seribu prajurit TNI juga ikut bergabung dalam misi perdamaian PBB sekaligus memperjuangkan harkat dan martabat merah putih.
Keterharuanku ini ternyata cukup beralasan karena beberapa orang yang ikut dalam penaikan bendera merah putih itu, ternyata merasakan sesuatu yang sama. Hal ini aku ketahui setelah aku menanyakan kepada beberapa orang dari rekan Satgas Garuda usai upacara penaikan bendera tersebut. Mereka juga merasa terharu saat detik-detik penaikan bendera merah putih.

Jumpa dengan Mahasiswa dan TKI
Selain rekan-rekan dari Satgas Garuda yang bertugas di Lebanon, dalam upacara penaikan bendera di KBRI Beirut, Lebanon, hadir pula beberapa peserta upacara undangan khusus dari Kedubes yakni dari kalangan mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Lebanon serta sejumlah TKI yang mencari nafkah di bumi Lebanon ini.
Karena kangen lama tak berjumpa dengan kalangan mahasiswa (maklum karena penulis pernah juga menjadi mahasiswa di tiga universitas yang berbeda), saat acara ramah tamah sembari menyantap menu khas lndonesia yang disiapkan pihak KBRI, ayam goreng, ikan tongkol dan “urab-uraban”, aku menyempatkan berbincang-bincang dengan sebagian dari mereka. Dan dari keterangan mereka inilah aku mendapatkan sejumlah informasi penting tentang kehidupan mahasiswa di Lebanon ini.
Salah satu di antara mereka tersebut, sebut saja Ahmad Husein, salah satu mahasiswa Indonesia asal Aceh yang kini tercatat sebagai mahasiswa jurusan Dakwah di Beirut Islamic University, Lebanon. Menurut pemuda berperawakan kurus ini, sudah kali kedua ia mendapat undangan kehormatan Kedubes RI di Beirut untuk mengikuti upacara tujuhbelasan. Sedangkan terkait dengan kondisi mahasiswa Indonesia yang ada di Lebanon, menurutnya sebagian besar berbekal bea siswa meski ada beberapa di antaranya dengan menggunakan beaya pribadi. “ Secara umum mereka ini ada yang kuliah di Lebanese American University, Jamiah Al-Azhar, Global University dan Beirut Islamic University” katanya sembari diamini oleh rekan-rekannya yang saat itu ikut berbincang-bincang dengan kami.
Sebagian Mahasiswa Indonesia yang ada di Lebanon
Foto bersama dengan Dubes dan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Lebanon
Bagaimana dengan sistem pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di Lebanon? Menurut mereka sistem pendidikan di Lebanon untuk tingkat universitasnya hampir sama, meski secara umum masih kalah baik dan profesional dibandingkan dengan kuliah di tanah air. “ Sebagian perguruan tinggi di sini masih menggunakan sistem paket dengan sistem belajar hafalan, sedangkan sebagian lagi sudah menggunakan sistem SKS seperti di Indonesia “ kata Ansori, kolega Husein dari kampus yang sama. “Untuk kehidupan mahasiswa di sini sebenarnya dikatakan enak yach enak, tidak enak yach memang terkadang kurang mengenakkan “ lanjutnya. Menurutnya yang terkadang membuat tidak enak adalah beaya hidup yang cukup mahal dan kurang bisa terjangkau bila sang mahasiswa berasal dari keluarga yang pas-pasan serta tidak ada usaha lain selain menunggu kiriman dari tanah air. “ Terkadang susah mas di sini. Mau jalan, beaya angkot mahal, mau minum termasuk minum aqua pun sudah mahal, belum lagi jajanan maupun makanan yang tidak cocok dengan selera kita. Akhirnya terpaksa kita benar-benar fokus ke pendidikan dan belajar, daripada jalan-jalan atau makan-makan yang berbeaya besar dan menguras jatah dapur kita” katanya yang kembali diamini oleh rekan-rekannya.
Mendengar keterangan mereka tersebut, aku hanya bisa sekedar memberi nasehat untuk tetap fokus pada pendidikan dan bisa menjaga diri baik-baik agar apa yang mereka cita-citakan dapat tercapai dengan baik dan sempurna. Sebenarnya aku ingin berbincang-bincang agak lama dengan mereka, namun karena waktu yang tidak mengizinkan di mana aku harus segera kembali ke Naqoura, maka aku pun segera pamit kepada mereka untuk bergabung dengan rombonganku.
***

No comments:

Post a Comment