Setelah menjalani ibadah puasa yang cukup
“memberatkan” di tengah teriknya panas matahari di musim panas, tibalah hari
yang kami nantikan, hari kemenangan “Idul Fitri”. Seperti halnya pemerintah
Indonesia yang menetapkan Idul Fitri pada Kamis, 8 Agustus 2013, pemerintah
Lebanon pun menetapkan hari yang sama untuk “pesta” kemenangan bagi warga yang
merayakannya.
Bagiku pribadi, meski ada pengalaman
tersendiri bisa merasakan idul fitri di negeri orang, akan tetapi tetap saja
ada sesuatu yang kurang. Di malam takbir misalnya, tidak ada kumandang takbir
dari si kecil Vio, anakku bungsu yang melafalkan takbir dengan kalimatnya yang
lucu dan kurang lengkap, “ Allah……hu… wa bar, …. Allah……hu… wa bar …. “ atau
suara anakku sulung Lita yang melantunkan takbir dengan suaranya yang cukup
merdu. Tidak ada pula suara-suara ramai di dapur, suara isteriku memasak menu
khusus special lebaran kesukaan keluarga kami. Ini bila aku dan keluargaku
merayakan lebaran di Jakarta. Bila kami merayakan di kampung kelahiranku di
Tegal, maka praktis lebih seru lagi karena selain bisa bertemu dengan seluruh
keluarga besarku, juga aku dapat melihat “pawai obor” yang dilakukan anak-anak
kampungku, berjalan kaki, ratusan orang jumlahnya, tua muda, memegang obor,
sebagian mendorong gerobak berisi bedug
atau “dug dag” plus sound systemnya. Dan ini jelas tidak bisa aku temui di
daerah penugasan Lebanon ini.
Sesuatu yang kurang tersebut sedikit terobati
ketika akhirnya kami dan sejumlah rekan-rekan Satgas, usai sholat Isya
berjamaah, melaksanakan “takbiran” dengan mencoba tradisi khas Indonesia. Untuk
sekedar mengingat kebiasaan kami di Indonesia terutama di masa kecil, suara takbir
yang kami kumandangkan lewat loud speaker yang bersuara keras di atas “mesjid”
Indonesia di Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon, kami iring dengan
“tetabuhan”. Karena tidak ada bedug, maka kami menggunakan 3 buah galon plastik
bekas air mineral plus tempat sayur alumunium yang kami jadikan musik
pengiring. Hasilnya luar biasa, lantunan kalimat takbir yang tadinya “monoton”
menjadi hidup dan akhirnya membuat suasana mesjid menjadi lebih ramai, karena
banyak rekan yang tertarik untuk ikut meramaikan suasana malam takbiran
tersebut.
![]() |
| Bersama jamaah sholat Ied dari Tanzania |
Esoknya, aku dan rekan-rekan dari seluruh
Satgas Indonesia yang bermarkas di Naqoura, ditambah beberapa jamaah tamu dari
sejumlah negara seperti Turki, Malaysia, Tanzania, Perancis, Belarusia dan
lainnya yang selama ini sering sholat berjamaah di mesjid kami, melaksanakan
sholat Idul Fitri. Komandan Kontingen Garuda yakni Kolonel Karmin Suharma saat
itu bertindak sebagai khotib sekaligus imamnya. Sholat Ied ini berjalan dengan
lancar dan tertib yang kemudian dilanjutkan dengan acara “salam-salaman”,
saling memaafkan satu sama lain seperti halnya tradisi yang ada di tanah air.
Saat salam-salaman ini aku teringat dengan
kebiasaanku di tanah air terutama ketika merayakan lebaran di kampung halaman.
Secara bergiliran mulai dari saudara kami yang tertua beserta keluarganya
bersimpuh di pangkuan Mamaku, memohon maaf serta mohon doanya buat keselamatan
dan kesuksesan kami sebagai anak-anaknya. Saat itu hampir dipastikan aku dan
saudaraku pasti akan meneteskan air mata. Dan inilah yang aku ingat ketika aku
mulai bersalam-salaman dengan rekan-rekanku. Aku teringat Mamaku yang masih
sakit, sehingga tanpa terasa ada butiran air mata yang mengalir dari mataku.
“Mama, maafkan aku yang tidak bisa bersimpuh di pangkuanmu di hari yang fitri ini”
demikian tangis hatiku. Meski dibalut duka dan kesedihan, aku tetap mengikuti
acara salam-salaman ini hingga acara makan pagi bersama yang diadakan di ruang
makan kamp kami.
Ketupat Lebanon
Sebagaimana tradisi di tanah air di mana
makanan khas perayaan hari kemenangan Idul Fitri di hari pertama bisa dikatakan
tak lepas dari “Ketupat Lebaran” maka di Lebanon ini ternyata tak jauh berbeda.
Aku sendiri dan sejumlah rekan Satgas yang lain sempat kaget ketika memasuki
ruang makan, menu khas lebaran ini sudah tertata rapi di atas meja. Saat itu
ada ketupat yang telah dipotong segi empat kecil-kecil, opor dengan gumpalan
daging ayam yang cukup besar, sambal goreng kentang, mie goreng, krupuk dan
sambal. Melihat menu ini maka sedikit banyak kesedihanku agak berkurang karena
benar-benar terasa berada di tanah air.
![]() |
| Makan "ketupat" Lebanon yang lumyan enak |
Saat itu aku kagum dengan sang juru masak
yang mampu menghadirkan menu khas lebaran tersebut kepada kami. Kekagumanku
bertambah ketika mendengar teknik memasak ketupat yang sedikit berbeda dengan
cara memasaknya di tanah air. Kalau di tanah air, masak ketupat cukup mudah.
Tinggal mengisi beras ke dalam bahan pembungkus ketupat yang umumnya terbuat
dari daun kelapa yang telah dianyam sedemikian rupa, masukkan ke d alam panci
yang telah diisi dengan air, rebus dan tunggu hingga matang. Bagaimana dengan
di Lebanon ini? Tidak ada bahan pembungkus ketupat yang terbuat dari daun pohon
kelapa. Bahkan untuk membuat “saudaranya” ketupat yakni lontong pun ternyata
cukup sulit karena sukar untuk mencari daun pisang sebagai pembungkusnya maupun
plastik pembungkus berukuran kecil. Untuk menyiasati kesulitan ini ternyata,
sang juru masak memiliki trik tersendiri dengan langsung membuat adonan ketupat
di atas cetakan besar persegi empat panjang dari bahan alumunium yang biasanya
kami jadikan sebagai tempat sayuran. Nasi lembek yang sengaja mereka buat
selanjutnya dimasukkan ke dalam tempat ini. Dibiarkan dingin dan akhirnya
benar-benar menjadi ketupat “Lebanon”. Cara menyajikannya pun cukup praktis
dengan memotongnya kecil-kecil dengan ukuran segi empat seperti saat kita
memotong agar-agar buatan sendiri.
Cara pembuatan ketupat dengan teknik seperti
itu ternyata lebih praktis dalam situasi ketiadaan bahan pembuat ketupat
terutama dari segi pembungkusnya. Sayang teknik ini belum bisa dipahami oleh
sebagian dari kami sehingga terkadang bagi mereka yang ingin mencoba
membuatnya, justru kegagalam yang mereka alami. Untuk yang satu ini, seperti
yang dialami rekanku di satu jalur korimek di Soedirman Camp. Ketupat Lebaran
buatannya yang dengan susah payah dibuat di malam takbiran akhirnya “mubadzir”
karena gagal “menjadi ketupat”. Kegagalannya itu memang disebabkan karena
ketiadaan bahan pembuat ketupat ini. Karena tidak ada plastik berukuran kecil
(seperti di Indonesia platik kecil untuk ukuran ons, seperempat, setengah kilo)
maka ia menggunakan plastik berukuran besar yang dibelinya di Super Market
terkenal di Tyre Al Janaoub (mungkin ukuran satu kilo) yang selanjutnya dilipat
menjadi dua dengan cara membakar sisi lipatannya dengan lilin. Setelah diisi
beras dan air kemudian dimasukkan ke dalam panci, ternyata tidak berapa lama
kemudian, plastiknya jebol, tidak kuat menahan proses pemuaian beras. Akhirnya
dengan kecewa terpaksa gagal lah pembuatan ketupat tersebut karena “ketupat”
tidak bisa matang dengan sempurna.
Teknik pembuatan ketupat Lebanon dari kreasi
sang juru masak tersebut seharusnya bisa dijadikan acuan untuk Kontingen Garuda
berikutnya. Kalau tidak dengan jalan itu maka bisa pula dengan tetap
menggunakan cara konvensional seperti di tanah air, akan tetapi sebelumnya
harus menyiapkan bahan utama pembungkusnya yakni daun kelapa dengan menanam
kelapanya terlebih dahulu di lingkungan sekitar Kamp.
***


No comments:
Post a Comment