Sunday, August 25, 2013

Catatan ke-43: Merasakan “Ketupat” Lebanon



 Setelah menjalani ibadah puasa yang cukup “memberatkan” di tengah teriknya panas matahari di musim panas, tibalah hari yang kami nantikan, hari kemenangan “Idul Fitri”. Seperti halnya pemerintah Indonesia yang menetapkan Idul Fitri pada Kamis, 8 Agustus 2013, pemerintah Lebanon pun menetapkan hari yang sama untuk “pesta” kemenangan bagi warga yang merayakannya.
Bagiku pribadi, meski ada pengalaman tersendiri bisa merasakan idul fitri di negeri orang, akan tetapi tetap saja ada sesuatu yang kurang. Di malam takbir misalnya, tidak ada kumandang takbir dari si kecil Vio, anakku bungsu yang melafalkan takbir dengan kalimatnya yang lucu dan kurang lengkap, “ Allah……hu… wa bar, …. Allah……hu… wa bar …. “ atau suara anakku sulung Lita yang melantunkan takbir dengan suaranya yang cukup merdu. Tidak ada pula suara-suara ramai di dapur, suara isteriku memasak menu khusus special lebaran kesukaan keluarga kami. Ini bila aku dan keluargaku merayakan lebaran di Jakarta. Bila kami merayakan di kampung kelahiranku di Tegal, maka praktis lebih seru lagi karena selain bisa bertemu dengan seluruh keluarga besarku, juga aku dapat melihat “pawai obor” yang dilakukan anak-anak kampungku, berjalan kaki, ratusan orang jumlahnya, tua muda, memegang obor, sebagian mendorong gerobak berisi  bedug atau “dug dag” plus sound systemnya. Dan ini jelas tidak bisa aku temui di daerah penugasan Lebanon ini.
Sesuatu yang kurang tersebut sedikit terobati ketika akhirnya kami dan sejumlah rekan-rekan Satgas, usai sholat Isya berjamaah, melaksanakan “takbiran” dengan mencoba tradisi khas Indonesia. Untuk sekedar mengingat kebiasaan kami di Indonesia terutama di masa kecil, suara takbir yang kami kumandangkan lewat loud speaker yang bersuara keras di atas “mesjid” Indonesia di Soedirman Camp, Naqoura, South Lebanon, kami iring dengan “tetabuhan”. Karena tidak ada bedug, maka kami menggunakan 3 buah galon plastik bekas air mineral plus tempat sayur alumunium yang kami jadikan musik pengiring. Hasilnya luar biasa, lantunan kalimat takbir yang tadinya “monoton” menjadi hidup dan akhirnya membuat suasana mesjid menjadi lebih ramai, karena banyak rekan yang tertarik untuk ikut meramaikan suasana malam takbiran tersebut.
Bersama jamaah sholat Ied dari Tanzania
Esoknya, aku dan rekan-rekan dari seluruh Satgas Indonesia yang bermarkas di Naqoura, ditambah beberapa jamaah tamu dari sejumlah negara seperti Turki, Malaysia, Tanzania, Perancis, Belarusia dan lainnya yang selama ini sering sholat berjamaah di mesjid kami, melaksanakan sholat Idul Fitri. Komandan Kontingen Garuda yakni Kolonel Karmin Suharma saat itu bertindak sebagai khotib sekaligus imamnya. Sholat Ied ini berjalan dengan lancar dan tertib yang kemudian dilanjutkan dengan acara “salam-salaman”, saling memaafkan satu sama lain seperti halnya tradisi yang ada di tanah air.
Saat salam-salaman ini aku teringat dengan kebiasaanku di tanah air terutama ketika merayakan lebaran di kampung halaman. Secara bergiliran mulai dari saudara kami yang tertua beserta keluarganya bersimpuh di pangkuan Mamaku, memohon maaf serta mohon doanya buat keselamatan dan kesuksesan kami sebagai anak-anaknya. Saat itu hampir dipastikan aku dan saudaraku pasti akan meneteskan air mata. Dan inilah yang aku ingat ketika aku mulai bersalam-salaman dengan rekan-rekanku. Aku teringat Mamaku yang masih sakit, sehingga tanpa terasa ada butiran air mata yang mengalir dari mataku. “Mama, maafkan aku yang tidak bisa bersimpuh di pangkuanmu di hari yang fitri ini” demikian tangis hatiku. Meski dibalut duka dan kesedihan, aku tetap mengikuti acara salam-salaman ini hingga acara makan pagi bersama yang diadakan di ruang makan kamp kami.

Ketupat Lebanon
Sebagaimana tradisi di tanah air di mana makanan khas perayaan hari kemenangan Idul Fitri di hari pertama bisa dikatakan tak lepas dari “Ketupat Lebaran” maka di Lebanon ini ternyata tak jauh berbeda. Aku sendiri dan sejumlah rekan Satgas yang lain sempat kaget ketika memasuki ruang makan, menu khas lebaran ini sudah tertata rapi di atas meja. Saat itu ada ketupat yang telah dipotong segi empat kecil-kecil, opor dengan gumpalan daging ayam yang cukup besar, sambal goreng kentang, mie goreng, krupuk dan sambal. Melihat menu ini maka sedikit banyak kesedihanku agak berkurang karena benar-benar terasa berada di tanah air.
Makan "ketupat" Lebanon yang lumyan enak
Saat itu aku kagum dengan sang juru masak yang mampu menghadirkan menu khas lebaran tersebut kepada kami. Kekagumanku bertambah ketika mendengar teknik memasak ketupat yang sedikit berbeda dengan cara memasaknya di tanah air. Kalau di tanah air, masak ketupat cukup mudah. Tinggal mengisi beras ke dalam bahan pembungkus ketupat yang umumnya terbuat dari daun kelapa yang telah dianyam sedemikian rupa, masukkan ke d alam panci yang telah diisi dengan air, rebus dan tunggu hingga matang. Bagaimana dengan di Lebanon ini? Tidak ada bahan pembungkus ketupat yang terbuat dari daun pohon kelapa. Bahkan untuk membuat “saudaranya” ketupat yakni lontong pun ternyata cukup sulit karena sukar untuk mencari daun pisang sebagai pembungkusnya maupun plastik pembungkus berukuran kecil. Untuk menyiasati kesulitan ini ternyata, sang juru masak memiliki trik tersendiri dengan langsung membuat adonan ketupat di atas cetakan besar persegi empat panjang dari bahan alumunium yang biasanya kami jadikan sebagai tempat sayuran. Nasi lembek yang sengaja mereka buat selanjutnya dimasukkan ke dalam tempat ini. Dibiarkan dingin dan akhirnya benar-benar menjadi ketupat “Lebanon”. Cara menyajikannya pun cukup praktis dengan memotongnya kecil-kecil dengan ukuran segi empat seperti saat kita memotong agar-agar buatan sendiri.
Cara pembuatan ketupat dengan teknik seperti itu ternyata lebih praktis dalam situasi ketiadaan bahan pembuat ketupat terutama dari segi pembungkusnya. Sayang teknik ini belum bisa dipahami oleh sebagian dari kami sehingga terkadang bagi mereka yang ingin mencoba membuatnya, justru kegagalam yang mereka alami. Untuk yang satu ini, seperti yang dialami rekanku di satu jalur korimek di Soedirman Camp. Ketupat Lebaran buatannya yang dengan susah payah dibuat di malam takbiran akhirnya “mubadzir” karena gagal “menjadi ketupat”. Kegagalannya itu memang disebabkan karena ketiadaan bahan pembuat ketupat ini. Karena tidak ada plastik berukuran kecil (seperti di Indonesia platik kecil untuk ukuran ons, seperempat, setengah kilo) maka ia menggunakan plastik berukuran besar yang dibelinya di Super Market terkenal di Tyre Al Janaoub (mungkin ukuran satu kilo) yang selanjutnya dilipat menjadi dua dengan cara membakar sisi lipatannya dengan lilin. Setelah diisi beras dan air kemudian dimasukkan ke dalam panci, ternyata tidak berapa lama kemudian, plastiknya jebol, tidak kuat menahan proses pemuaian beras. Akhirnya dengan kecewa terpaksa gagal lah pembuatan ketupat tersebut karena “ketupat” tidak bisa matang dengan sempurna.
Teknik pembuatan ketupat Lebanon dari kreasi sang juru masak tersebut seharusnya bisa dijadikan acuan untuk Kontingen Garuda berikutnya. Kalau tidak dengan jalan itu maka bisa pula dengan tetap menggunakan cara konvensional seperti di tanah air, akan tetapi sebelumnya harus menyiapkan bahan utama pembungkusnya yakni daun kelapa dengan menanam kelapanya terlebih dahulu di lingkungan sekitar Kamp.
***

No comments:

Post a Comment