Tuesday, January 1, 2013

Catatan ke-6 : Tinggal di Korimek

Salah satu jejeran Korimek di Soedirman Kamp, Naqoura, Lebanon

 Setelah tiba di Soedirman Camp pada 1 Desember 2012 pagi, kami semua diantar oleh rekan-rekan kami (yang nantinya akan kami gantikan posisinya dalam tugas-tugas Unifil di Lebanon) ke Corimex kami. Corimek atau kalau tidak salah dalam padanan bahasa Indonesianya “Korimek” adalah sebutan untuk bangunan yang dibuat secara knock down berbahan busa yang dilapisi aluminium yang bisa dimanfaatkan untuk tempat tinggal maupun perkantoran. Bentuknya segi empat memanjang dengan atap seng dan lantai keramik.  Dan tipe bangunan inilah yang digunakan Unifil untuk membangun markas, perkantoran dan juga tempat tidur pasukannya.

Bentuk barisan korimek dari depan

Korimek yang saya tuju adalah tipe Korimek tempat tinggal yang dibangun secara paralel. Masing-masing Korimek tempat tinggal luasnya sekitar 3,5 x 6 meter dengan fasilitas 4 tempat tidur, 4 lemari pekaian, 4 meja kecil dan 1 AC (di waktu musim dingin saat ini menjadi mesin penghangat atau heater). Satu jalur Korimek terdiri dari 6 Korimek dengan satu Korimek untuk MCK (dengan fasilitas 3 toilet, 3 kamar mandi dengan shower air panas dan dingin, satu mesin cuci, dan tempat cuci piring). Total barisan Korimek yang ada berjumlah 10 baris Korimek yang terbagi dalam dua lajur, terpisah jalan di tengah-tengahnya dan jalan samping kanan dan kiri Korimek. Jarak antara Korimek satu dengan Korimek lainnya (depan-belakang) rata-rata 4 meter (biasanya dimanfaatkan untuk ruang santai dan juga untuk menjemur pakaian). Masing-masing Korimek ditempati oleh 4 personel Satgas Garuda. Saat ini saya menempati Korimek F-1.

Tempat tidurku yang cukup sederhana

Selain Korimek, di Soedirman Kamp ini juga tersedia fasilitas lapangan luas tempat pelaksanaan upacara penting, parkir yang cukup luas. Tersedia pula tempat ibadah berupa rubb hall yang bisa disulap menjadi Mesjid dan tempat pertemuan dengan daya tampung mencapai 200 orang (di saat ibadah sholah Jumat, tempat ini menjadi pusat ibadah semua prajurit Unifil yang beragama Islam). Ada pula Korimek dapur yang cukup luas dengan ruang makan yang juga dapat menampung 100 personel dengan tambahan fasilitas mesin penghangat (heater) plus seperangkat alat band lengkap dengan sound systemnya.

“Tangan Kreatif  “ Tentara Indonesia
Dari beberapa informasi yang aku peroleh, sebenarnya bentuk bangunan Korimek Unifil tidak dibenarkan untuk diubah dan “tidak boleh” dilengkapi dengan tanaman-tanaman yang akan membikin kesan kumuh dan jorok di setiap bangunan Korimek. Kesan ini memang aku jumpai di beberapa Korimek milik sejumlah kontingen dari negara lain. Di Kamp Tanzania yang merupakan Military Police Unit (MPU) untuk sektor west Unifil misalnya yang letaknya persis di bawah Soedirman Kamp, aku tidak menemui satu pun tanaman yang menghiasi Korimek baik di depan-belakang, samping kiri-kanan Korimek mereka.

Pisang Lebanon made in Indonesian Army

Pemandangan tersebut tidak ditemui di Soedirman Kamp ini. Setiap jengkal tanah baik yang berada di depan, belakang, termasuk di samping kanan dani kiri Korimek disulap menjadi taman-taman kecil yang enak untuk “kongkow-kongkow” (sayang di musim dingin ini tidak bisa dimanfaatkan karena cuaca yang cukup dingin). Untuk tanamannya, jangan kaget (awalnya aku sendiri heran), hampir sejumlah tanaman khas Indonesia di tanam di sekitar Korimek di sini. Ada deretan pisang yang ditanam di samping kanan kiri Korimek yang saat aku datang sedang berbuah. Ada pula anggur, singkong, ubi rambat, cabai, jahe, lengkuas dan kangkung. Hebat, di tanah gersang berbatu sebagaimana layaknya kawasan Lebanon, tanaman khas Indonesia bisa tumbuh, benar-benar kreatif tentara Indonesia!! Pikirku pertama menginjakkan kaki di Kamp ini.
Sedangkan untuk menambah suasana hidup dan nyaman lingkungan tempat tinggal, di setiap jalan masuk barisan Korimek dibuat taman dengan sejumlah tanaman khas Indonesia pula ditambahi dengan sejumlah asesoris tambahan dari ban-ban bekas yang dilukis dan ditulis dengan cukup kreatif oleh rekan-rekan kami sebelumnya. Dengan kondisi ini, maka lingkungan Korimek menjadi tempat tinggal yang cukup asri dan bersih, tidak gersang, tetapi cukup nyaman untuk bisa kami tempati dalam kurun waktu sekitar 1 tahun ke depan.

Korimek “Serbaguna”
Sebagai tempat pelepas lelas usai melaksanakan aktifitas sehari-hari, Korimek akhirnya menjadi bagian hidup kami di daerah penugasan. Di korimek inilah kami bisa lebih akrab dalam suasana kekeluargaan yang saling menghargai dan menghormati dengan rekan-rekan lain meskipun kami beda suku, agama, ras, termasuk beda satuan, Korps maupun angkatan.

Masak Indomie khas Indonesia

Media yang paling tepat untuk mengintegrasikan perbedaan itu umumnya dilakukan dengan diskusi-diskusi kecil “ngalor-ngidul” di dalam korimek, main musik (dengan guitar dan bekas galon minuman mineral sebagai gendangnya) serta aktifitas lain seperti menyulap Korimek kecil kami menjadi dapur dadakan untuk masak air untuk bikin kopi, susu maupun teh serta masak Indomie campur telur secara bersama-sama, di saat terasa lapar di malam hari. Peralatannya? Jangan ditanya, semua peralatan masak mulai dari tempat memasak air, memasak nasi elektrik hingga gelas, piring dan sendok tersedia di sini yang umumnya “peninggalan” dari rekan-rekan kami terdahulu maupun yang dibawa kami sendiri dari Indonesia (saat ada pemeriksaan dari petugas Unifil yang bertugas menjaga kebersihan Korimek), perlengkapan ini kami simpan di dalam gudang kontainer Satgas kami masing-masing)
Itulah sedikit gambaran kondisi Korimek, yang menjadi tempat tinggalku selama penugasan di Lebanon. Aku dan juga semua rekan berharap, Korimek ini menjadi tempat yang benar-benar nyaman sebagai pengganti tempat tinggal kami di indonesia.
                                                              ***

2 comments:

  1. Terima kaasih tulisannya. Hebat sudah mulai menulis di Blok 2013, pasti masih kenal saya y, saya bertugas di JLOC, green Hill Naqoura, 12 Maret 2012 sd 12 Maret 2013. Tetap menulis ya. Jika saya lupa tentang Lebanon, saya tinggal melihat blog nya., Mayor Nani Disdikal

    ReplyDelete
  2. Siap Mayor. Tetap masih ingat. Salam Garuda!

    ReplyDelete