Sebagai lembaga
resmi yang merupakan kepanjangan tangan PBB, Unifil yang kini didukung pasukan
dari 36 negara termasuk Kontingen Garuda dari Indonesia, tentu memperhatikan
seluruh fasilitas dan aset yang ada di Lebanon. Dalam hal kenyamanan bagi
seluruh pasukan yang ada di Lebanon misalnya, PBB dalam hal ini Unifil
menyediakan fasilitas Korimek lengkap dengan dukungan air panas-dingin yang
“tidak pernah habis” untuk keperluan mandi, cuci dan sebagainya. Dengan fasilitas ini maka di saat musim dingin
seperti kali ini, setiap personel Unifil dapat mandi dengan nyaman menggunakan
air panas (tentunya tidak terlalu panas, agar badan tidak “melepuh”). Sedangkan
sebaliknya di musim panas, setiap personel dapat memanfaatkan air dingin yang
tersedia (kalau ada yang mau mandi air dingin).
Fasilitas air
panas dan dingin yang disediakan Unifil di setiap Korimek pasukan seperti “prolog”
di atas inilah yang akhirnya menjadi salah satu inspirasi dari catatanku yang
ketujuh ini. Seperti telah disinggung dalam catatanku sebelumnya, setiap baris
korimek di tempat tinggal kami di Soedirman dilengkapi 3 kamar mandi dengan
toilet duduk, satu mesin pemanas air, satu
mesin cuci, tiga shower box dengan penutup tirai dan shower tray di bawahnya. Masing-masing
shower box ini dilengkapi dengan satu kran putar kiri-kanan yang dapat
mengeluarkan air dingin dan . Fasilitas
lain dalam korimek kamar mandi ini adalah satu buah wastafel panjang dengan
tiga kran putar kirin kanan. Dari ujung kran-kran yang mengeluarkan air inilah
cerita ini dimulai.
Cerita berawal
ketika kami baru sampai di Korimek pada 1 Desember 2012 pagi. Saat itu rekanku Sersan
“Sarno” berniat mandi untuk menghilangkan
rasa letih dan menyegarkan badan setelah hampir seharian “dihantam” goyangan
pesawat Jakarta-Karachi-Beirut dan kendaraan Beirut-Naqoura, ditambah lagi
goyangan badan di jalur tanjakan menuju Soedirman Kamp. Beberapa saat setelah
berpamitan kepada kami berdua yang satu Korimek, sang Sersan tiba-tiba dengan
handuk mandinya kembali ke dalam Korimek. Aku bertanya, “Kok cepat sekali
mandinya” tanyaku yang sedang beres-beres perlengkapan pribadi. “ Airnya dingin
sekali. Nggak jadi mandi” jawabnya pendek sembari melemparkan handuk ke atas
tempat tidurnya. Saat itu memang kondisi cukup dingin. Aku sendiri pasti “ogah”
mandi bila menggunakan air dingin. Badanku yang sudah terbungkus baju loreng
dan jaket loreng di dalam ruanganpun masih tertembus hawa dingin, apalagi di
luar korimek dan diguyur air dingin, sulit membayangkan dinginnya!.
Kejadian itu
selanjutnya terlewati dan tidak aku pikirkan. Kami tetap melanjutkan kesibukan
masing-masing, menyiapkan dan menata perlengkapan dan pakaian yang akan
digunakan sehari-hari di Korimek dan selama penugasan. Esok paginya sekitar jam
7 pagi waktu Lebanon, kami diajak rekan kami dari Satgas lama yang akan kembali
ke tanah air untuk makan pagi. Kami bertiga menurut dan mengikuti rekan kami
ini menuju ruang makan dengan membawa masing-masing sendok dan piring pinjaman
milik rekan kami tadi (katanya di ruang makan tidak tersedia sehingga harus
bawa peralatan makan dari korimek masing-masing. Untuk Satgas saat ini ada
perubahan di mana peralatan makan sudah tersedia di ruang makan).
Singkat cerita,
usai menyantap makanan pertama Kamp Soedirman, kami bertiga kembali ke Korimek
dengan membawa piring dan sendok yang masih kotor (wastafel di ruang makan
airnya tidak mengalir). Sebelum masuk kamar Korimek, kami bertiga mampir ke
kamar mandi korimek yang letaknya berdampingan dengan korimek kamar kami.
Sasaran kami adalah wastafel (tempat cuci piring). Temanku yang pertama datang
langsung mengambil busa pencuci piring dan mulai membersihkan kotoran yang
menempel di atas piring. Temanku yang satu mengikuti, demikian pula aku. Saat
membilas piring yang dipenuhi sabun cuci piiring dengan membuka kran wastafel
dengan arah ke atas, temanku langsung berteriak” panas…. Airnya panas sekali!”.
Temanku yang kedua mencoba membilas piring kotornya dan juga berteriak, “ Iya
yo, panas sekali.”. Mereka berdua mencoba berulang-ulang, airnya tetap panas. Aku
pun tak ketinggalan mencoba kran yang satunya dengan posisi kran aku naikkan ke
atas, ternyata yang keluar airnya tidak terlalu panas. Aku coba putar serong kiri
dengan posisin kran tetap ke atas, air yang keluar tidak terlalu panas tapi
lama kelamaan sangat panas. Aku coba putar kebalikannya dengan memutar ke serong
kanan penuh, air panas tetap keluar beberapa saat tetapi selanjutnya dingin. Di
sinilah letak permasalahannya yang selanjutnya aku jelaskan kepada
rekan-rekanku.
Dengan adanya
kejadian di kamar mandi korimek tersebut, ingatanku seketika melayang ke
peristiwa rekanku yang “tidak jadi” mandi pagi karena airnya “sangat dingin”.
Aku yakin posisi kran saat itu serong kanan penuh sehingga air yang keluar
adalah air dingin. Coba kalau posisi kran diubah serong kiri, pasti yang keluar
air yang cukup puanasssssss. Dasar “katrok”, maklum sebagian dari kami termasuk
aku sendiri berasal dari kampung nun jauh di Indonesia……………….
Hahaha..
ReplyDeleteLucu ceritanya Pak..
saya sendiri juga pernah ngalami.. gak berani mandi di hotel karena air nya panas.. ealaah ternyata salah puter kran..
wkwkwkwk.. maklum baru sekali kalinya nginep di hotel, itu juga di bayari kantor pas ada training
He..he..he..he .... maklum pak, sebagian dari kami memang asli "wong ndeso".... terima kasih atensinya.
Delete