Memasuki bulan kedua penugasan, tepatnya di
bulan Januari 2013, cuaca dingin di daerah penugasan Lebanon mulai terasa bagi
kami, Satgas Garuda yang terbiasa hidup di daerah tropis. Seperti diketahui Lebanon memiliki iklim Mediterania yakni iklim yang berada pada kebanyakan wilayah cekungan Mediterania sebagai bagian dari iklim subtropis. Ciri iklim ini adalah musim panas yang hangat hingga panas dan kering,
dan musim dingin yang mild dan basah.
Dengan
tipe iklim mediterania ini maka secara umum daerah penugasan Lebanon memiliki empat musim yang berbeda. Musim dingin terjadi
pada Desember sampai pertengahan Maret di mana sebagian besar hujan dan
turunnya salju di kawasan pegunungan. Musim panas terjadi
pada Juni sampai
September di mana suhu akan terasa panas menyengat terutama di daerah sepanjang pantai Lebanon. Selanjutnya ada pula musim semi dan gugur. Meski memiliki musim dingin, tetapi suhu jarang turun di bawah titik beku, dengan
tingkat kelembaban rata-rata 69,3
persen. Sedangkan pada musim panas terutama pada Agustus suhu rata-rata terpanas adalah 86o F (300C) sedangkan Juni, Juli, September dan Oktober
rata-rata lebih dari 80oF (260C). Suhu paling rendah rata-rata terjadi pada bulan Januari dan Februari
yakni antara 44-50oF (7-100
C). November, Desember, Maret dan
April juga memiliki suhu rendah rata-rata 10oC.
Kondisi
iklim yang cukup berbeda dengan Indonesia tersebut membuat aktifitas kami
sehari-hari sedikit terhambat. Pada Januari 2013 saat ini misalnya, kami yang
berada di kamp Soedirman, Naqoura, Lebanon Selatan, hampir setiap hari diguyur
hujan yang seringkali diiringi angin kencang dan hujan es (suhu rata-rata
berkisan antara 7-10 derajat celsius). Untuk beraktifitas ke kantor, setiap
hari kami harus mengenakan pakaian rata-rata empat rangkap dimulai dari long john,
kaos dalam, sweater, baju loreng (gurun atau TNI), bahkan sebagian ditambah
dengan jaket gurun tebal untuk mengurangi hawa dingin yang benar-benar menyusup
sampai tulang. Selanjutnya setibanya di kantor, umumnya kami langsung
melaksanakan tugas kami masing-masing dengan menutup rapat-rapat pintu kantor
agar terjangan angin besar tidak masuk (maklum, kantor kami kebetulan berada
tidak begitu jauh dari pantai sehingga hembusan angin cukup kencang, apalagi
kalau disertai hujan es yang berisik karena menimpa atap ruangan kantor yang
terbuat dari seng).
Dalam
kondisi cuaca ekstrem yang kurang bersahabat tersebut, yang paling berat adalah
tim outrech kami yang tetap harus melaksanakan tugasnya mengunjungi lokal
leader/ tokoh masyarakat sesuai dengan kalender kerja yang telah ditetapkan.
Mereka harus ekstra hati-hati dalam berkendara terutama terhadap kondisi
jalanan yang cukup berliku dan banyak tikungan tajam dengan kanan kiri jurang
menganga.
Tidur Dengan Jaket dan Selimut Tebal
Untuk
mengantisipasi kondisi cuaca yang ekstrem di Lebanon, pihak Unifil sebenarnya
sudah melengkapi sarana dan prasarananya dengan fasilitas yang lumayan. Sebagai
contoh setiap ruangan korimek dilengkapi dengan pemanas dan pendingin ruangan
(bentuknya sama dengan AC). Alat ini dapat multi fungsi bisa mengeluarkan hawa
dingin dan panas (dingin dengan tanda “biru” digunakan untuk musim panas dan
sebaliknya bila disetel panas dengan kode “merah” digunakan untuk musim
dingin).
Namun
kondisi yang cukup “mengenakan” pasukan tersebut tidak aku temui. Alat
penghangat dan pendingin yang ada di ruangan korimek kami ternyata rusak.
Akibatnya, setiap malam kami harus ber”dingin ria”. Namun untuk mengurangi rasa
dingin yang cukup “tajam” dikarenakan mesin penghangat ruangan yang mati
tersebut, saat istirahat kerja (di malam hari sebelum tidur), kadang-kadang
(kalau tidak ada pekerjaan kantor) secara beramai-ramai kami membuat kopi
panas, masak indomie atau nyanyi ramai-ramai dengan iringan gitar dan ukulele.
Lagu yang sering kami dendangkan adalah lagu-lagu pop kenangan Indonesia,
dangdut, campur sari hingga lagu-lagu barat yang terkadang kami sendiri lupa
syairnya. “Sing penting ramai lah dan bisa ngurangi hawa adem” demikian kata
seorang rekanku yang asli Bumiayu.
Selanjutnya
usai bercanda ria menikmati dinginnya malam di Koremek, kami pun langsung
beranjak tidur untuk memulihkan tenaga, biar besok tenaga fit kembali. Agar
bisa tidur dengan nyenyak, umumnya kami harus menyiapkan jaket dan selimut yang
tebal ditambah dengan kaos kaki dan “kerpus” penutup kepala. Kalau tidak
memakai ini maka jelas kami tidak bisa tidur karena hawa dingin yang
benar-benar menusuk tulang.
Pagi
hari, bertepatan dengan adzan Subuh yang dikumandangkan dari mushola yang ada
di dalam Kamp Soedirman, kami pun segera bangun dan bergegas mandi. Tetapi
muncul masalah baru, mesin pemanas air di korimek kamar mandi kami, ternyata
tidak bekerja maksimal. Air panas atau air hangat yang tersedia sangat
terbatas. Akibatnya di saat mandi pagi kami harus “dulu-duluan” agar kebagian
“air panas” atau kalau terpaksa sudah kehabisan air panas atau air hangat,
beramai-ramai kami numpang mandi di korimek tetangga.
***
No comments:
Post a Comment