![]() |
Bentuk Unifil ID Card yang digantung di saku kiri baju dinas |
Dalam menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon, personel Unifil
(United Interim Force In Lebanon) termasuk di dalamnya dari Kontingen Garuda
Indonesia yang saat ini terdiri dari beberapa Satuan Tugas yakni Indobatt,
IndoFPC, FHQSU, SeMPU, Cimic, MCOU dan Military Staff, masing-masing dibekali
dengan Unifil ID Card yakni Kartu identitas kecil yang dalam keseharian
bertugas digantung dengan gantungan kecil berlogo Unifil di saku baju kiri.
Di dalam kartu ID ini tercatat dengan jelas nama lengkap si pemegang,
nomor ID, golongan darah, masa akhir berlakunya kartu, tanda tangan dan foto
diri si pemegang dengan baju dinas tanpa tutup kepala.
Kartu identitas dengan dominasi warna putih dengan garis biru bertuliskan
“United Nations, Nations Unies” ini kegunaannya jelas sangat penting dalam
menjalankan tugas-tugas keseharian membawa nama Unifil. Dengan kartu ini maka
kita dapat melakukan pergerakan “secara bebas” di daerah operasi Unifil
(tentunya didukung dengan ciri lain sebagai anggota Unifil seperti Uniform
dsb).
Selain Kegunaan “mutlak” tersebut, Unifil ID Card juga bisa digunakan
sebagai “senjata” untuk memperoleh kemudahan. Sebagai contoh, dengan ID Card,
seluruh personel Unifil dapat menikmati rokok murah di PX (Post Exchange)
Naqoura, dengan hanya membayar 3 dolar untuk satu slopnya yang berisi 10
bungkus (satu ID Card maksimal tiga slop untuk masa transaksi satu bulan).
Kemudahan lain, kartu identitas ini dapat dijadikan “barang jaminan” saat melakukan
transaksi jual beli dengan pihak lain di luar Unifil seperti dengan pedagang
dari warga setempat.
Kemudahan Kredit di Toko Mahdi dan Sam
Dua toko yang menjual barang-barang elektronik yang sering menjadi
langganan tentara Indonesia adalah toko Sam dan Mahdi. Kedua toko ini letaknya
sekitar 3 km dari kamp Soedirman, Naqoura, South Lebanon (keluar dari Main Gate
Unifil Head Quarter yang dijaga tentara Indonesia dari FPC, belok kanan
menyusuri Minstry Street, melewati pos jaga LAF, 300 meter berhenti di
pertokoan besar di sebelah kanan jalan).
![]() |
Aku dan Mahdi di toko elektroniknya |
Dua toko tersebut seakan bersaing dalam menjajakan dagangannya termasuk
kepada tentara Indonesia baik dalam segi pelayanan maupun harga. Dalam hal
kemudahan bertransaksi, dua toko juga bersaing. Mereka tidak hanya melayani
pembelian semua produk barang dengan cash, tetapi juga bisa dengan cara
mencicil atau “kredit”. Persyaratannya juga cukup mudah, tinggal tawar menawar,
harga cocok, bayar cash atau kalau mau kredit, berani “berapa kali bayar” baru catat nomor ID, dan selanjutnya barang
yang kita inginkan pun bisa langsung dibawa pulang ke Korimek.
Bagaimana dengan harganya? Harga barang-barang di Mahdi dan Sam
sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga Indonesia. Beberapa barang tertentu
bisa jadi lebih mahal dibandingkan beli Indonesia, namun ada kalanya bisa pula
lebih murah. Khusus untuk barang elektronik, ada kecenderungan harga lebih
murah dibandingkan harga yang dibanderol di Indonesia. Contoh, Januari lalu
seorang rekanku membutuhkan Laptop berkecepatan tinggi merk HP Pavilion Dv7. Dari informasi yang ia baca di
internet, kelebihan laptop jenis ini terletak pada prosessornya berupa intel
quad core i5 yang dijalankan dengan until turbo boost teknologi (Teknologi ini
merupakan teknologi mutakhir yang dapat mencapai 2,6 GHz dengan kecepatan
tinggi sehingga dapat digunakan dengan cepat. Laptop HP Pavilion Dv7 ini merupakan
laptop yang hemat energy dengan sistem ATI Radeon nya. Model dasar dari laptop
ini memiliki lebar sebesar 17.3 inchi dan ini termasuk laptop yang besar).
Berbekal dari
informasi tersebut, rekanku selanjutnya berangkat menuju kedua toko “sahabat”
tentara Indonesia tersebut. Ia langsung mendatangi toko Mahdi dan berbicara
langsung dengannya. Tak berapa lama oleh Mahdi ditunjukkan HP Pavillion DV-7
dengan spesifikasi antara lain prosesor
Intel Core i5-3210 2,56 GHz, 750 GB HDD, 8 GB memory DDR3, 2 baris Graphics
adapter : NVIDIA GeForce 2 GB dan At Radeon 4 GB dengan monitor 17’3 LED. Melihat modelnya, ia
pun langsung tertarik dan terjadilah tawar menawar. Mahdi memasang harga 800
dolar amerika, tidak boleh kurang. Tetapi akhirnya dengan tambahan kata-kata, “
baiklah untuk Indonesia saya kasih 785 dolar, ambilah!” akhirnya transaksi pun
deal dan disetujuti kedua pihak. Bagaimana dengan pembayarannya, “ Terserah
anda, mau cash atau berapa kali kamu mampu bayar?”demikian kata Mahdi yang
sedikit banyak mengerti bahasa Indonesia. Dengan kalimat ini akhirnya rekanku
menyetujui untuk membayar dengan cara mencicil selama 4 kali. Mahdi setuju,
rekanku serahkan Unifil ID Card, Mahdi mencatat nomornya, laptop pun sudah
berpindah tangan dan langsung di bawa ke korimek. Mudah khan! Bagaimana dengan
harga di Indonesia. Saat aku searching di internet harganya cukup lumayan
antara 1000-1100 dolar, yang berarti lebih murah di Lebanon.
Untuk “kredit” barang elekronik lainnya seperti External HDD, LED TV,
Audio, jam tangan dan lainnya, prosesnya tidak berbeda jauh. Tinggal lihat
barang, tertarik, tawar menawar, setuju, bayar cash atau kredit dengan menyerahkan
nomor Unifil ID Card, dan terakhir bawa ke korimek, selesai. Inilah salah satu
bukti “saktinya” ID Card yang dikeluarkan Unifil untuk personelnya. Meskipun
demikian ada satu catatan penting, silahkan “kredit” barang semaunya sesuai
kebutuhan dan kemampuan, asalkan sebelum berakhirnya penugasan, “kreditan”
sudah lunas. Kalau belum lunas, jangan harap bisa tenang ketika sudah kembali
ke Indonesia. Bisa-bisa si personel yang bermasalah suruh balik lagi ke Lebanon
(tentunya dengan beaya sendiri), sekedar untuk “melunasi” hutangnya kepada
Mahdi atau Sam. Kalau ini terjadi, malu juga merah putih.
***


No comments:
Post a Comment