Tuesday, February 26, 2013

Catatan ke-23 : Unifil ID Card dan Kredit Barang Elektronik


Bentuk Unifil ID Card yang digantung di saku kiri baju dinas


  Dalam menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon, personel Unifil (United Interim Force In Lebanon) termasuk di dalamnya dari Kontingen Garuda Indonesia yang saat ini terdiri dari beberapa Satuan Tugas yakni Indobatt, IndoFPC, FHQSU, SeMPU, Cimic, MCOU dan Military Staff, masing-masing dibekali dengan Unifil ID Card yakni Kartu identitas kecil yang dalam keseharian bertugas digantung dengan gantungan kecil berlogo Unifil di saku baju kiri.
Di dalam kartu ID ini tercatat dengan jelas nama lengkap si pemegang, nomor ID, golongan darah, masa akhir berlakunya kartu, tanda tangan dan foto diri si pemegang dengan baju dinas tanpa tutup kepala.
Kartu identitas dengan dominasi warna putih dengan garis biru bertuliskan “United Nations, Nations Unies” ini kegunaannya jelas sangat penting dalam menjalankan tugas-tugas keseharian membawa nama Unifil. Dengan kartu ini maka kita dapat melakukan pergerakan “secara bebas” di daerah operasi Unifil (tentunya didukung dengan ciri lain sebagai anggota Unifil seperti Uniform dsb).
Selain Kegunaan “mutlak” tersebut, Unifil ID Card juga bisa digunakan sebagai “senjata” untuk memperoleh kemudahan. Sebagai contoh, dengan ID Card, seluruh personel Unifil dapat menikmati rokok murah di PX (Post Exchange) Naqoura, dengan hanya membayar 3 dolar untuk satu slopnya yang berisi 10 bungkus (satu ID Card maksimal tiga slop untuk masa transaksi satu bulan). Kemudahan lain, kartu identitas ini dapat dijadikan “barang jaminan” saat melakukan transaksi jual beli dengan pihak lain di luar Unifil seperti dengan pedagang dari warga setempat.

Kemudahan Kredit di Toko Mahdi dan Sam
Dua toko yang menjual barang-barang elektronik yang sering menjadi langganan tentara Indonesia adalah toko Sam dan Mahdi. Kedua toko ini letaknya sekitar 3 km dari kamp Soedirman, Naqoura, South Lebanon (keluar dari Main Gate Unifil Head Quarter yang dijaga tentara Indonesia dari FPC, belok kanan menyusuri Minstry Street, melewati pos jaga LAF, 300 meter berhenti di pertokoan besar di sebelah kanan jalan).

Aku dan Mahdi di toko elektroniknya

Dua toko tersebut seakan bersaing dalam menjajakan dagangannya termasuk kepada tentara Indonesia baik dalam segi pelayanan maupun harga. Dalam hal kemudahan bertransaksi, dua toko juga bersaing. Mereka tidak hanya melayani pembelian semua produk barang dengan cash, tetapi juga bisa dengan cara mencicil atau “kredit”. Persyaratannya juga cukup mudah, tinggal tawar menawar, harga cocok, bayar cash atau kalau mau kredit, berani “berapa kali bayar”  baru catat nomor ID, dan selanjutnya barang yang kita inginkan pun bisa langsung dibawa pulang ke Korimek.
Bagaimana dengan harganya? Harga barang-barang di Mahdi dan Sam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga Indonesia. Beberapa barang tertentu bisa jadi lebih mahal dibandingkan beli Indonesia, namun ada kalanya bisa pula lebih murah. Khusus untuk barang elektronik, ada kecenderungan harga lebih murah dibandingkan harga yang dibanderol di Indonesia. Contoh, Januari lalu seorang rekanku membutuhkan Laptop berkecepatan tinggi merk HP Pavilion Dv7. Dari informasi yang ia baca di internet, kelebihan laptop jenis ini terletak pada prosessornya berupa intel quad core i5 yang dijalankan dengan until turbo boost teknologi (Teknologi ini merupakan teknologi mutakhir yang dapat mencapai 2,6 GHz dengan kecepatan tinggi sehingga dapat digunakan dengan cepat. Laptop HP Pavilion Dv7 ini merupakan laptop yang hemat energy dengan sistem ATI Radeon nya. Model dasar dari laptop ini memiliki lebar sebesar 17.3 inchi dan ini termasuk laptop yang besar).
Berbekal dari informasi tersebut, rekanku selanjutnya berangkat menuju kedua toko “sahabat” tentara Indonesia tersebut. Ia langsung mendatangi toko Mahdi dan berbicara langsung dengannya. Tak berapa lama oleh Mahdi ditunjukkan HP Pavillion DV-7 dengan spesifikasi antara lain prosesor Intel Core i5-3210 2,56 GHz, 750 GB HDD, 8 GB memory DDR3, 2 baris Graphics adapter : NVIDIA GeForce 2 GB dan At Radeon 4 GB  dengan monitor 17’3 LED. Melihat modelnya, ia pun langsung tertarik dan terjadilah tawar menawar. Mahdi memasang harga 800 dolar amerika, tidak boleh kurang. Tetapi akhirnya dengan tambahan kata-kata, “ baiklah untuk Indonesia saya kasih 785 dolar, ambilah!” akhirnya transaksi pun deal dan disetujuti kedua pihak. Bagaimana dengan pembayarannya, “ Terserah anda, mau cash atau berapa kali kamu mampu bayar?”demikian kata Mahdi yang sedikit banyak mengerti bahasa Indonesia. Dengan kalimat ini akhirnya rekanku menyetujui untuk membayar dengan cara mencicil selama 4 kali. Mahdi setuju, rekanku serahkan Unifil ID Card, Mahdi mencatat nomornya, laptop pun sudah berpindah tangan dan langsung di bawa ke korimek. Mudah khan! Bagaimana dengan harga di Indonesia. Saat aku searching di internet harganya cukup lumayan antara 1000-1100 dolar, yang berarti lebih murah di Lebanon.
Untuk “kredit” barang elekronik lainnya seperti External HDD, LED TV, Audio, jam tangan dan lainnya, prosesnya tidak berbeda jauh. Tinggal lihat barang, tertarik, tawar menawar, setuju, bayar cash atau kredit dengan menyerahkan nomor Unifil ID Card, dan terakhir bawa ke korimek, selesai. Inilah salah satu bukti “saktinya” ID Card yang dikeluarkan Unifil untuk personelnya. Meskipun demikian ada satu catatan penting, silahkan “kredit” barang semaunya sesuai kebutuhan dan kemampuan, asalkan sebelum berakhirnya penugasan, “kreditan” sudah lunas. Kalau belum lunas, jangan harap bisa tenang ketika sudah kembali ke Indonesia. Bisa-bisa si personel yang bermasalah suruh balik lagi ke Lebanon (tentunya dengan beaya sendiri), sekedar untuk “melunasi” hutangnya kepada Mahdi atau Sam. Kalau ini terjadi, malu juga merah putih. 
***

No comments:

Post a Comment