Thursday, May 30, 2013

 Catatan ke-28 : Menikmati Salju Faraya dan Musibah yang Tak Terduga

 Kali ini tulisanku sedikit melenceng dengan  kapasitasku sebagai pasukan penjaga perdamaian di Lebanon. Aku akan sedikit bercerita tentang pengalamanku dan rekan-rekan Satgas MCOU XXX-C Unifil ketika “berpesiar” menghabiskan waktu senggang di hari Sabtu dan Minggu di sebuah tempat yang cukup terkenal di Lebanon karena saljunya, yakni Faraya.
Wisata Salju Faraya yang menarik wisatawan
Faraya (bahasa Arab: فاريا) adalah sebuah desa Lebanon terletak di Distrik Kesrwan. Ketinggiannya berkisar antara 1.300 sampai 1.500 meter (4.300 sampai 4.900 kaki). Lokasinya sekitar 42 km dari Beirut (dari markasku, Naqoura, South Lebanon, bila ditempuh dengan mobil sekitar 3-4 jam). Jalan ke Faraya dari jalan raya pesisir melewati Ajaltoun, Achkout, Faytroun, Mairouba, Hrajel dan akhirnya Faraya.
Di musim dingin (Januari-April), Faraya yang merupakan ski resort terbesar di Timur Tengah memiliki iklim dingin dengan akumulasi salju yang bisa mencapai lebih dari 1,5 meter (5 kaki) dan suhu turun ke -6 ° C (21 ° F) atau lebih rendah di musim dingin. Di musim panas (sekitar Juli dan Agustus),  suhu dapat mencapai lebih dari 30° C (86 ° F), dan seperti di musim dingin Faraya adalah sebuah resort paling menarik bagi banyak orang.
Sebenarnya keinginan kami untuk sekedar jalan-jalan mengobati “kejenuhan” selama bergabung dalam misi penugasan PBB di Lebanon, telah direncanakan pada Februari 2013, di mana musim dingin lagi tengah mencapai puncaknya. Akan tetapi dengan mempertimbangkan kuantitas pekerjaan yang juga lagi cukup padat maka akhirnya acara liburan kami baru terlaksana pada 9 Maret 2013.
Mampir beli jajanan dalam perjalanan
Setelah mendapat restu dari MCOU Commander Major Antonio Caragnano serta pejabat terkait tentang niat kami untuk pesiar di luar area operasi Unifil, maka pada Sabtu, 9 Maret 2013 pukul 05.30 LT akhirnya kami berangkat ke Faraya. Kami menyewa dua bus “tanggung” yang masing-masing busnya diisi 25 orang. Aku dan rombongan Satgasku, MCOU Unifil bergabung dengan rombongan Satgas Cimic (Civic Militari Coordination) menempati bus pertama, sedangkan satu bus lainnya diisi rombongan dari Satgas FPC (Force Protection Company).
Suasana perjalanan dari markas kami di Naqoura menuju Faraya pada awalnya cukup membosankan, apalagi sebelum memasuki Beirut,  pemandangan alam di kanan kiri jalanan masih tidak berubah (beberapa kali penulis melewati jalanan ini), deretan bukit khas Lebanon dengan rumah-rumahnya, gedung apartemen (di Indonesia seperti rumah susun) yang sebagian jorok mengotori pemandangan kota maupun beberapa deretan rumah maupun gedung perkantoran yang kondisinya cukup lumayan bersih dan megah. Namun keluar dari kota Beirut saat menyusuri jalananan menuju Faraya, kondisi jalanan mulai sedikir berubah. Banyak pemandangan baru yang sebelumnya tidak pernah aku lihat terpampang jelas. Berulangkali kamera Nikon D300, aku arahkan ke beberapa objek menarik di kanan kiri jalan. Bahkan sesekali aku harus menyeruak maju ke depan, duduk di samping sang Driver yang asli Lebanon untuk mengambil gambar suatu obyek yang menurutku antik dan cukup menarik.
Mendekati daerah kawasan Faraya, keindahan alam pegunungan mulai terlihat. Dari jauh kami lihat kawasan Faraya yang tertutup salju, putih seperti kapas tertimpa sinar matahari pagi menjelang siang yang cukup terik. Bus yang kami tumpangi pun mulai terseok-seok mendaki jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok. Meski melalui jalanan yang cukup berbahaya ini, tetapi justru kami menikmati keindahan alam yang terpampang di kanan kiri jalan, gumpalan salju yang memenuhi pinggiran jalan, rumah, hotel, cotage maupun sejumlah pertokoan yang atapnya sebagian tertutup salju, termasuk pepohonan yang juga terlihat indah dengan daun saljunya.
Pemandangan menuju puncak Faraya
Setelah melewati sejumlah kelokan tajam yang berbahaya, akhirnya rombongan kami tiba di check point pertama memasuki kawasan Faraya. Sesuai dengan peraturan dari pihak pengelola tempat wisata salju ini, seluruh kendaraan besar para wisatawan yakni bus harus berhenti dan parkir di tempat ini. Tidak boleh masuk!. Bagaimana dengan penumpangnya? Otomatis harus turun dan berjalan kaki naik ke puncak Faraya yang jauhnya sekitar satu kilometer. Dengan pertimbangan waktu yang sempit serta jarak yang masih jauh dari sentra Faraya, akhirnya kami bernegosiasi dengan beberapa orang Polisi Lebanon yang menjaga jalan masuk Faraya di Check Point pertama ini. Dengan bermodalkan sticker bulat Unifil dan bendera merah putih di kaca depan mobil serta dengan tambahan beberapa kata yang intinya memohon, “ diperbolehkannya bus yang ditumpangi prajurit Unifil dari Indonesia” memasuki kawasan Faraya, akhirnya kendaraan bus kami pun diperbolehkan memasuki kawasan Faraya. Lolos dari halangan di check point pertama, dua bus kami pun tiba di check point kedua yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari yang pertama. Di tempat inipun beberapa petugas Polisi yang menjaga jalanan segera menghentikan kendaraan kami dan memerintahkan agar kami putar balik karena “bus dilarang masuk”. Untuk keduakalinya kami pun bernegosiasi, meminta pengecuali untuk kendaraan bus yang ditumpangi prajurit Unifil dari Indonesia. Setelah bernegosiasi sekitar dua-tiga menit, dua bus kami pun akhirnya diperbolehkan masuk langsung ke pusat wisata Faraya.

Musibah yang Tak Terduga
Mencoba main ski yang ternyata cukup sulit
Foto bersama rombongan Satgasku
Setelah tiba di pusat wisata salju Faraya, secara berombongan kami segera naik melewati jalanan bersalju yang bagi kami merupakan sesuatu yang sangat unik dan langka, karena belum pernah kami alami sebelumnya. Berulangkali kami secara bergantian mengabadikan moment kami ketika berada di tempat ini. Moment saat main meluncur dari ketinggian dengan alas celana, moment berforo bersama dengan para wisatawan lokal maupun mancanegara, moment  saat bergaya dengan peralatan ski yang khusus kami sewa untuk satu rombongan maupun moment bebas perorangan. Pokoknya kami semua dibebaskan untuk menikmati semua keindahan salju yang ada di Faraya. Waktu yang ditentukan ketua rombongan adalah 3 jam di tempat ini sebelum berangkat ke tempat wisata lainnya.
Setelah satu jam menikmati indahnya salju Faraya yang diibaratkan seperti kapas atau kertas putih yang terhampar luas dengan aneka permainannya seperti ski, kereta gantung dan sebagainya, aku dan beberapa rekanku berencana untuk naik ke puncak  menyusul sejumlah rekanku, tetapi tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak terduga. Saat itu aku melihat puluhan temanku sedang merubung seseorang yang berteriak kesakitan. Aku segera mendatangi mereka. Ternyata seorang rekanku, Sertu Wahidin Sutanto yang juga rekan satu Satgas dan satu korimek sedang meringis kesakitan sembari memegangi tangan kanannya. Dari keterangan rekanku yang lain, sambungan tulang di punggungnya lepas dari “mangkuknya” (istilah ilmu kedokteran, dislokasi tulang). Penyebabnya, terjatuh karena tertabrak seorang anak kecil yang tidak bisa mengendalikan skinya ketika meluncur dari sebuah ketinggian. Seorang rekanku, Serda Nieckson yang mengerti ilmu “persendian tulang” pun menyerah dan saat itu tidak berani untuk mengembalikan kondisi tulang yang bergeser. Akhirnya dengan wajah yang meringis kesakitan, dan tangan yang dibantu dibalut dengan syal, beberapa orang dari kami membawa sang Sertu ini ke balai pengobatan terdekat yang letaknya tak jauh dari lokasi parkir. Aku sendiri dengan beberapa rekanku menjaga dan mengamankan peralatan dan tas-tas mereka yang tertinggal di hamparan salju putih.
Dengan adanya musibah tersebut, kegiatan wisata kami pun otomatis tidak bisa dinikmati dengan sempurna. Setengah jam kemudian, kami mendengar bahwa balai pengobatan di tempat wisata Faraya, South Lebanon ini ternyata “menyerah” dan tidak bisa menangani kasus dislokasi tulang pengunjungnya. Ketua rombongan yang juga Komandan Satgas MCOU Letkol Mohammad Ilyas akhirnya mengambil keputusan agar seluruh rombongan kembali ke kendaraan. Aku dan sebagian rekan lainnya pun segera turun ke bawah, ke lokasi parkir dan segera memasuki kendaraan meninggalkan Faraya. Pada awalnya, melihat kondisi korban yang cukup serius dan aku yakin harus menahan rasa sakitnya yang bertambah karena tidak langsung ditangani, Ketua rombongan memutuskan untuk membawa ke rumah sakit terdekat. Akan tetapi dalam perjalanan setelah berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit Unifil di Naqoura, korban diminta dibawa langsung ke Naqoura. Akhirnya, kami pun meluncur ke Naqoura. Satu bus lainnya yang diisi anggota Indo FPC tetap melanjutkan perjalanan wisatanya ke bebeberapa tempat lain sesuai tujuan awal kami.
Tiba di Unifil Hospital untuk mendapatkan perawatan
Setelah memakan waktu empat jam perjalanan yang cukup melelahkan karena sedikit dihambat arus kendaraan yang cukup padat di kawasan Beirut, bus kami memasuki kawasan Markas Besar Unifil di Naqoura, South Lebanon. Kami segera membawa rekanku yang terkena musibah tersebut ke Unifil Hospital Level II. Di rumah sakit di mana sembilan rekanku juga bertugas di dalamnya, rombongan kami sudah ditunggu dokter rumah sakit. Dan dengan bantuan kursi roda, rekanku langsung dibawa ke ruang pemeriksaan dan akhirnya mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya.
                                                                               ***

1 comment:

  1. Seruuuuu yaaaa main salju disana tepat banget nih akhir tahun pasti disana lagi musim dingin dan bersaljuuu..... segera agendakan liburan bersama keluarga ke Lebanon...
    Ternyata di Lebanon ada Gua yang Indahnya tak kalah dengan tempat-tempat lain hiasan alam stalakmit dan stalaktit menambah keindahan gua itu. Gua tersebut bernama Gua Jeita Grotto terletak di kawasan Jeita, 20 km dari Beirut, Libanon. Penasaran dengan keindahan Gua tersebut cek disini yuuk http://penulispro.com/gua-jeita-grotto/11956/

    ReplyDelete