Kali
ini tulisanku sedikit melenceng dengan
kapasitasku sebagai pasukan penjaga perdamaian di Lebanon. Aku akan
sedikit bercerita tentang pengalamanku dan rekan-rekan Satgas MCOU XXX-C Unifil
ketika “berpesiar” menghabiskan waktu senggang di hari Sabtu dan Minggu di
sebuah tempat yang cukup terkenal di Lebanon karena saljunya, yakni Faraya.
![]() |
| Wisata Salju Faraya yang menarik wisatawan |
Faraya
(bahasa Arab: فاريا) adalah sebuah desa Lebanon terletak di Distrik Kesrwan. Ketinggiannya berkisar antara 1.300 sampai 1.500 meter
(4.300 sampai 4.900 kaki).
Lokasinya sekitar 42 km dari
Beirut (dari
markasku, Naqoura, South Lebanon, bila ditempuh dengan mobil sekitar 3-4 jam). Jalan ke Faraya dari jalan raya pesisir melewati
Ajaltoun, Achkout, Faytroun, Mairouba, Hrajel dan akhirnya Faraya.
Di musim
dingin
(Januari-April), Faraya yang merupakan ski resort terbesar di Timur Tengah memiliki iklim dingin dengan akumulasi salju yang bisa
mencapai lebih dari 1,5 meter (5 kaki) dan suhu turun ke -6 ° C (21 ° F) atau
lebih rendah di musim dingin. Di musim panas (sekitar Juli dan Agustus),
suhu dapat
mencapai lebih dari 30° C (86 ° F), dan seperti di musim dingin Faraya adalah
sebuah resort
paling menarik bagi banyak orang.
Sebenarnya keinginan kami untuk sekedar
jalan-jalan mengobati “kejenuhan” selama bergabung dalam misi penugasan PBB di Lebanon,
telah direncanakan pada Februari 2013, di mana musim dingin lagi tengah
mencapai puncaknya. Akan tetapi dengan mempertimbangkan kuantitas pekerjaan
yang juga lagi cukup padat maka akhirnya acara liburan kami baru terlaksana
pada 9 Maret 2013.
![]() |
| Mampir beli jajanan dalam perjalanan |
Setelah mendapat restu dari MCOU
Commander Major Antonio Caragnano serta pejabat terkait tentang niat kami untuk
pesiar di luar area operasi Unifil, maka pada Sabtu, 9 Maret 2013 pukul 05.30
LT akhirnya kami berangkat ke Faraya. Kami menyewa dua bus “tanggung” yang
masing-masing busnya diisi 25 orang. Aku dan rombongan Satgasku, MCOU Unifil bergabung
dengan rombongan Satgas Cimic (Civic Militari Coordination) menempati bus
pertama, sedangkan satu bus lainnya diisi rombongan dari Satgas FPC (Force
Protection Company).
Suasana perjalanan dari markas kami di
Naqoura menuju Faraya pada awalnya cukup membosankan, apalagi sebelum memasuki
Beirut, pemandangan alam di kanan kiri
jalanan masih tidak berubah (beberapa kali penulis melewati jalanan ini),
deretan bukit khas Lebanon dengan rumah-rumahnya, gedung apartemen (di
Indonesia seperti rumah susun) yang sebagian jorok mengotori pemandangan kota
maupun beberapa deretan rumah maupun gedung perkantoran yang kondisinya cukup
lumayan bersih dan megah. Namun keluar dari kota Beirut saat menyusuri
jalananan menuju Faraya, kondisi jalanan mulai sedikir berubah. Banyak
pemandangan baru yang sebelumnya tidak pernah aku lihat terpampang jelas. Berulangkali
kamera Nikon D300, aku arahkan ke beberapa objek menarik di kanan kiri jalan.
Bahkan sesekali aku harus menyeruak maju ke depan, duduk di samping sang Driver
yang asli Lebanon untuk mengambil gambar suatu obyek yang menurutku antik dan
cukup menarik.
Mendekati daerah kawasan Faraya, keindahan
alam pegunungan mulai terlihat. Dari jauh kami lihat kawasan Faraya yang tertutup
salju, putih seperti kapas tertimpa sinar matahari pagi menjelang siang yang
cukup terik. Bus yang kami tumpangi pun mulai terseok-seok mendaki jalanan yang
menanjak dan berkelok-kelok. Meski melalui jalanan yang cukup berbahaya ini,
tetapi justru kami menikmati keindahan alam yang terpampang di kanan kiri
jalan, gumpalan salju yang memenuhi pinggiran jalan, rumah, hotel, cotage
maupun sejumlah pertokoan yang atapnya sebagian tertutup salju, termasuk pepohonan
yang juga terlihat indah dengan daun saljunya.
![]() |
| Pemandangan menuju puncak Faraya |
Setelah melewati sejumlah kelokan tajam
yang berbahaya, akhirnya rombongan kami tiba di check point pertama memasuki
kawasan Faraya. Sesuai dengan peraturan dari pihak pengelola tempat wisata
salju ini, seluruh kendaraan besar para wisatawan yakni bus harus berhenti dan
parkir di tempat ini. Tidak boleh masuk!. Bagaimana dengan penumpangnya? Otomatis
harus turun dan berjalan kaki naik ke puncak Faraya yang jauhnya sekitar satu kilometer.
Dengan pertimbangan waktu yang sempit serta jarak yang masih jauh dari sentra
Faraya, akhirnya kami bernegosiasi dengan beberapa orang Polisi Lebanon yang
menjaga jalan masuk Faraya di Check Point pertama ini. Dengan bermodalkan
sticker bulat Unifil dan bendera merah putih di kaca depan mobil serta dengan
tambahan beberapa kata yang intinya memohon, “ diperbolehkannya bus yang
ditumpangi prajurit Unifil dari Indonesia” memasuki kawasan Faraya, akhirnya
kendaraan bus kami pun diperbolehkan memasuki kawasan Faraya. Lolos dari
halangan di check point pertama, dua bus kami pun tiba di check point kedua
yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari yang pertama. Di tempat inipun beberapa
petugas Polisi yang menjaga jalanan segera menghentikan kendaraan kami dan
memerintahkan agar kami putar balik karena “bus dilarang masuk”. Untuk
keduakalinya kami pun bernegosiasi, meminta pengecuali untuk kendaraan bus yang
ditumpangi prajurit Unifil dari Indonesia. Setelah bernegosiasi sekitar
dua-tiga menit, dua bus kami pun akhirnya diperbolehkan masuk langsung ke pusat
wisata Faraya.
Musibah yang Tak
Terduga
![]() |
| Mencoba main ski yang ternyata cukup sulit |
![]() |
| Foto bersama rombongan Satgasku |
Setelah tiba di pusat wisata salju
Faraya, secara berombongan kami segera naik melewati jalanan bersalju yang bagi
kami merupakan sesuatu yang sangat unik dan langka, karena belum pernah kami
alami sebelumnya. Berulangkali kami secara bergantian mengabadikan moment kami
ketika berada di tempat ini. Moment saat main meluncur dari ketinggian dengan
alas celana, moment berforo bersama dengan para wisatawan lokal maupun
mancanegara, moment saat bergaya dengan
peralatan ski yang khusus kami sewa untuk satu rombongan maupun moment bebas
perorangan. Pokoknya kami semua dibebaskan untuk menikmati semua keindahan
salju yang ada di Faraya. Waktu yang ditentukan ketua rombongan adalah 3 jam di
tempat ini sebelum berangkat ke tempat wisata lainnya.
Setelah satu jam menikmati indahnya
salju Faraya yang diibaratkan seperti kapas atau kertas putih yang terhampar
luas dengan aneka permainannya seperti ski, kereta gantung dan sebagainya, aku
dan beberapa rekanku berencana untuk naik ke puncak menyusul sejumlah rekanku, tetapi tiba-tiba
terjadi sesuatu yang tidak terduga. Saat itu aku melihat puluhan temanku sedang
merubung seseorang yang berteriak kesakitan. Aku segera mendatangi mereka.
Ternyata seorang rekanku, Sertu Wahidin Sutanto yang juga rekan satu Satgas dan
satu korimek sedang meringis kesakitan sembari memegangi tangan kanannya. Dari
keterangan rekanku yang lain, sambungan tulang di punggungnya lepas dari “mangkuknya”
(istilah ilmu kedokteran, dislokasi tulang). Penyebabnya, terjatuh karena
tertabrak seorang anak kecil yang tidak bisa mengendalikan skinya ketika
meluncur dari sebuah ketinggian. Seorang rekanku, Serda Nieckson yang mengerti
ilmu “persendian tulang” pun menyerah dan saat itu tidak berani untuk
mengembalikan kondisi tulang yang bergeser. Akhirnya dengan wajah yang meringis
kesakitan, dan tangan yang dibantu dibalut dengan syal, beberapa orang dari
kami membawa sang Sertu ini ke balai pengobatan terdekat yang letaknya tak jauh
dari lokasi parkir. Aku sendiri dengan beberapa rekanku menjaga dan mengamankan
peralatan dan tas-tas mereka yang tertinggal di hamparan salju putih.
Dengan adanya musibah tersebut, kegiatan
wisata kami pun otomatis tidak bisa dinikmati dengan sempurna. Setengah jam
kemudian, kami mendengar bahwa balai pengobatan di tempat wisata Faraya, South
Lebanon ini ternyata “menyerah” dan tidak bisa menangani kasus dislokasi tulang
pengunjungnya. Ketua rombongan yang juga Komandan Satgas MCOU Letkol Mohammad
Ilyas akhirnya mengambil keputusan agar seluruh rombongan kembali ke kendaraan.
Aku dan sebagian rekan lainnya pun segera turun ke bawah, ke lokasi parkir dan
segera memasuki kendaraan meninggalkan Faraya. Pada awalnya, melihat kondisi
korban yang cukup serius dan aku yakin harus menahan rasa sakitnya yang
bertambah karena tidak langsung ditangani, Ketua rombongan memutuskan untuk
membawa ke rumah sakit terdekat. Akan tetapi dalam perjalanan setelah
berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit Unifil di Naqoura, korban diminta dibawa
langsung ke Naqoura. Akhirnya, kami pun meluncur ke Naqoura. Satu bus lainnya
yang diisi anggota Indo FPC tetap melanjutkan perjalanan wisatanya ke
bebeberapa tempat lain sesuai tujuan awal kami.
![]() |
| Tiba di Unifil Hospital untuk mendapatkan perawatan |
Setelah memakan waktu empat jam perjalanan
yang cukup melelahkan karena sedikit dihambat arus kendaraan yang cukup padat
di kawasan Beirut, bus kami memasuki kawasan Markas Besar Unifil di Naqoura,
South Lebanon. Kami segera membawa rekanku yang terkena musibah tersebut ke
Unifil Hospital Level II. Di rumah sakit di mana sembilan rekanku juga bertugas
di dalamnya, rombongan kami sudah ditunggu dokter rumah sakit. Dan dengan
bantuan kursi roda, rekanku langsung dibawa ke ruang pemeriksaan dan akhirnya
mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya.
***






Seruuuuu yaaaa main salju disana tepat banget nih akhir tahun pasti disana lagi musim dingin dan bersaljuuu..... segera agendakan liburan bersama keluarga ke Lebanon...
ReplyDeleteTernyata di Lebanon ada Gua yang Indahnya tak kalah dengan tempat-tempat lain hiasan alam stalakmit dan stalaktit menambah keindahan gua itu. Gua tersebut bernama Gua Jeita Grotto terletak di kawasan Jeita, 20 km dari Beirut, Libanon. Penasaran dengan keindahan Gua tersebut cek disini yuuk http://penulispro.com/gua-jeita-grotto/11956/