Terkadang
dalam beraktifitas sehari-hari, ada sebagian tugas yang menurut perkiraan orang
lain “imposible” dikerjakan karena beberapa hal seperti waktunya yang terbatas
(karena deadline terlewati) atau karena hasilnya yang diyakini tidak mungkin
maksimal atau bisa pula disebabkan karena peralatan yang kurang mendukung.
Untuk
yang satu ini ada pengalaman menarik yang terjadi pada satgas kami di mana kami
diserahi tugas untuk “menyulap” sesuatu yang menurut perkiraan orang lain
“tidak mungkin (imposible) “ menjadi sesuatu yang “possible”. Pengalaman
menarik ini terjadi pada minggu kedua penugasan (pertengahan Desember 2012)
lalu.
Cerita
berawal ketika pada 12 Desember 2012, Chief Product Development And Media
Centre (PDMC) Mayor Pier Paolo De Salvo bersama Chief TCos (Tactical Community
Outrechs) MCOU datang ke ruangan kerjaku. Mereka berdua memintaku memutar video
“ Mr. Blue Barrel” (mascot yang dipasang di sepanjang Blue Line hasil kreasi
rekan-rekan kami dari Satgas MCOU sebelumnya yang terbuat dari dua bekas galon air
sebagai kepada dan kaki yang dihubung dengan pipa pralon di tengah-tengahnya,
tangan terbuat dari bekas pipa pembuangan mesin cuci dengan tangan terbungkus
sarung tangan bola).
Perlu
diketahui video Mr Blue Barrel yang akan aku putar saat itu sebenarnya bukan
dalam bentuk video melainkan bentuk gambar hidup yang dikemas seara apik dengan
menggunakan Microsoft Power Point yang dipoles dengan beberapa tampilan kartun
bergerak yang lucu. Kelemahan dari tampilannya adalah ketiadaan background
suara dan juga tulisan bisu dalam bahasa arab gundul seperti kata-kata “ Hallo,
saya Mr. Blue Barrel” dan lainnya. Video ini selalu diputar kami setiap
melakukan kunjungan (enggagement) ke sekolah-sekolah yang ada di lebanon.
Tujuannya adalah mengenalkan garis maya pemisah antara Lebanon dan Israel yang
disebut Blue Line melalui maskot bernama Blue Barrel ini.
![]() |
Mr. Blue Barrel yang dipasang di Blue Line
|
Setelah
menyaksikan video Mr. Blue Barrel dengan video projector yang aku siapkan,
kedua orang anggota Resimen 28 Pesaro, Italia yang menjadi “mitra kerjaku” ini selanjutnya
bertanya kepadaku. “Can
you change this
video with something more interesting, more beautiful. Because, tomorrow morning, this video
will be show to the children (Bisakah anda
mengubah video ini dengan sesuatu yang lebih menarik, lebih indah. Sebab, besok
pagi video ini akan diperlihatkan kepada anak-anak)” demikian Chiefku, Mayor Paolo
bertanya kepadaku dengan logat Italianya yang masih sangat kental. “ Okay, I can do it. But… I need someone .. who
can fill … with the sound of the words according
to the Arabic language in this
video (Oke, saya bisa mengerjakannya. Tetapi saya butuh seseorang
yang dapat mengisi suara dengan kata-kata yang sesuai dengan bahasa arab dalam
video ini) “ jawabku sedikit terbata-bata. “
Good, we will call Ghea to help fill out the
sound in this video (Baik,
kami akan minta Ghea untuk membantu mengisi suara dalam video ini) “ katanya.
Aku mengangguk. Mereka berdua keluar dari ruang kerjaku. Ghea atau lengkapnya
ghea El Bardan adalah salah satu mitra kerja kami, asli Lebanon yang
menjalankan tugas sebagai Language Assistant (LA) MCOU. Orangnya cukup cantik
dengan kecantikan khas wanita timur tengah. Umurnya saat itu aku taksir sekitar
25 tahun.
Satu
jam kemudian, tiba-tiba Ghea muncul di ruang kerjaku dengan ditemani oleh
Chiefku Mayor Paolo, Chief Tcos WO3 Fabio dan juga Chief MCOU Mayor Antonio
Caragnano. Aku dan seorang rekanku, Nieckson, anggota Paskhas yang mahir
editing segera menyiapkan alat rekam. Sesaat kemudian suara Ghea pun kami
rekam. Tapi hasil rekaman tersebut ternyata volumenya terlalu kecil (karena
memang tipe suaranya yang tidak bisa bersuara keras), kami ulangi lagi, rekaman
terganggu dengan kalimat yang sering terputus atau salah membaca teks. Kami
coba rekaman ketiga, suara helikopter milik Italia yang terbang rendah
mengganggu proses rekaman ditambah lagi dengan slide yang gambar dan tampilan
kalimatnya yang tidak sesuai. “If this result, not good, it is imposible! Tommorow, we
can not show with video and voice like this. Stop! (Kalau begini hasilnya, jelek/ tidak
bagus, ini sesuatu yang tidak mungkin. Besok pagi, kita tidak bisa menampilkan
video dan suara seperti ini. Hentikan saja!) “ demikian kata Chief MCOU Mayor
Antonio Caragnano pasrah melihat hasil rekaman dan video yang “amburadul”. Mereka bertiga akhirnya keluar dengan
perasaan hati yang aku pikir, sangat kecewa, padahal besok pagi mereka harus
memutarkan video tersebut di depan anak-anak.
Setelah mereka berempat keluar, tinggal lah aku berdua dengan
Niekson, rekan kerjaku. Melihat kekecewaan orang-orang Italia ini, aku sendiri
mempunyai pikiran lain dan segera berkata kepada rekan kerjaku yang satu ini. “
Niek, coba kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mampu. Kita coba mengubah
sesuatu yang imposible seperti kata mereka menjadi sesuatu yang posible. Kamu
setuju” tanyaku. “ Oke bang. Aku setuju!” jawabnya merasa tertantang. “ Baik,
sekarang juga, coba kamu olah hasil rekaman yang amburadul tadi. Potong-potong
menjadi beberapa bagian. Aku akan memoles file power pointnya. Setelah selesai
serahkan pada saya dan kita coba lihat hasilnya nanti” pintaku kepadanya yang
ditanggapi dengan anggukan kepala.
Kami berdua akhirnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku
memoles file power pointnya sedangkan Nieckson sibuk dengan mencoba mengolah
hasil rekaman yang amburadul tadi. Dua jam kemudian kami selesai dan langsung
digabungkan. Hasilnya lumayan tetapi masih ada kekurangan karena belum ada
tambahan musik yang sesuai dengan tampilan gambarnya. Karena penasaran, usai
jam kerja sekitar pukul 18.00 LT, kami berdua searching di internet,
mendownload beberapa musik MP3 khas Lebanon yang cocok dengan dunia anak-anak.
Setelah berhasil dan langsung digabungkan, hasilnya cukup bagus. Kami pun lega.
Esok harinya sekitar pukul 08.15 LT, setelah kami menyiapkan seluruh
peralatan yang akan dibawa dalam kegiatan kunjungan ke Public School di Yarin,
kami memanggil Mayor Paolo dan Fabio untuk menyaksikan “kerja keras “ kami.
Hasilnya di luar dugaan. “ Very… … very
good… it’s imposible!” demikian mereka berkata sembari secara bersamaan
mengacungkan dua jempol tangannya kemudian memeluk kami berdua. Ghea, sang
Language Assistant yang tidak berapa lama kemudian datang juga ke tempat kami
setelah dipanggil juga menyatakan keheranan dan kekagumannya kepada hasil kerja
kami. Gambar, suara dan juga musik latarnya cocok dengan seleranya. Saat
pemutaran di depan puluhan anak-anak di Public School di Yarin, hasilnya pun
tidak mengecewakan. Mereka puas, kami juga ikut puas. Bahkan sang Chief MCOU
sempat juga menyalami kami. “The best our team” demikian kata Mayor Paolo
kepada Mayor Antonio, sang Chief. Dalam hati, kami heran. Sedemikian “hebatnya”
penghargaan mereka kepada kami karena sesuatu hal yang menurut kami sebenarnya
merupakan hal yang biasa dalam tugas-tugas kami di tanah air.
***

articolo interessante ... congratulazioni di turno
ReplyDelete-1nd Liuteunant Moh.Dian
Grazie Tenente. L'articolo si limita a descrivere qualcosa che è a volte dimenticato nella nostra cultura militare, apprezzare qualcuno, soprattutto subalterni nonostante la normale banale e considerato (Terima kasih Letnan. Artikel ini hanya sekedar menggambarkan sesuatu yang terkadang dilupakan di dalam budaya militer kita, menghargai seseorang terutama bawahan meskipun terhadap hal sepele dan dianggap sudah biasa).
DeleteIndobatt hebat...semoga selalu dijaga oleh Tuhan yang Maha Esa. ....btw.....mas tni bisa berapa bahasa sih?
ReplyDeleteTks atensinya. Untuk semua kontingen Garuda umumnya diwajibkan menguasai bahasa Inggris dengan baik. Khusus untuk Satgas kami (MCOU), karena bergabung dengan mitra kerja dari Italia dan Lebanon, diharapkan menguasai bahasa Italia/ Perancis dan Bahasa Arab.
ReplyDelete