![]() |
Halo Indonesia!!!
|
Saat kunjungan tersebut aku ditemani dua orang rekanku, Sertu
Hendra dan Serda Nieckson. Sedangkan tim Community Outrech dari Italia adalah
Chief PDMC Pier Paolo De Salvo, Chief TCos WO3 Fabio Cortesse,dan OR4 Maria De
Fonzo, dan Ghea El Bardan, Language Assistant dari lebanon. Kami ke lokasi
kunjungan menggunakan dua mobil. Kami bertiga dari Indonesia ditambah Ghea naik
mobil Ford Everest milik Indonesia, sedangkan tim Italia naik mobil Iveco
Italia yang setiap dindingnya dilapisi dengan plat baja.
Kunjungan ini merupakan kunjungan rutin ke berbagai sekolah di
Lebanon yang bertujuan menyampaikan pesan-pesan perdamaian kepada warga sesuai
dengan United Nations Security Council Resolution (UNSCR) 1701. Khusus untuk
anak-anak termasuk di Yarin Public School, pesan yang kami sampaikan dalam
bentuk pengenalan mengenai simbol-simbol unifil dari uniform yang dikenakan dan
sebagian tugas-tugasnya serta pengenalan tentang blue line. Pada akhir acara,
pada umumnya kami mendapatkan feedback tentang materi yang telah disampaikan di
mana sebagian besar anak-anak di kawasan Lebanon ini mengerti dan memahami tentang
Unifil maupun Blue Line.
Agar “pesan perdamaian” tersebut bisa dipahami dan diterima
anak-anak sekolah dasar (kelas I hingga kelas III), kami membawa beberapa
peralatan yang menjadi andalan kami dalam melaksanakan tugas-tugas sejenis.
Peralatan tersebut berupa dua mascot Mr. Blue Barrel (terbuat dari galon bekas
air mineral, satu sbg kepala dan lainnya sebagai kaki yang dihubungkan dengan
badan terbuat dari pralon, ditambah dengan sepasang tangan. Maskot kami ini
telah diakui dan terpasang di sepanjang garis maya “blue line” sepanjang garis
perbatasan Israel-Lebanon dengan bahan utama drum bekas minyak dan besi).
Dari kunjungan ke dua sekolah yang berbeda tersebut, ada
perbedaan yang sangat menyolok antara kondisi sekolah swasta (Private School)
dengan sekolah negeri (Public School). Pada kunjungan pertama ke Dibil Private
School, aku menjumpai sarana dan prasarana pendidikan yang cukup baik dengan
murid-murid yang juga cukup “berkelas” dilihat dari tampilan pakaian yang
mereka kenakan. Sebaliknya ketika kunjungan ke Yarin Public School, aku
menjumpai hal yang cukup berbeda. Gedung yang kurang terurus meski berlantai
tiga, ruangan kelas yang kotor dengan kursi-kursi tua serta yang paling pokok
dengan kondisi murid-muridnya yang terlihat dari pakaiannya dari warga yang
kurang mampu.
Dari perbincanganku dengan Nisrinne Matta, seorang Language
Assistant yang menemani kami berkunjung ke salah satu sekolah swasta di kawasan
Dibil, Lebanon Selatan pada 11 Desember 2012, diperoleh informasi bahwa
demikianlah kondisi pendidikan di Lebanon. Menurutnya, pendidikan formal
di
Lebanon dimulai untuk anak usia 3 sampai 4 tahun. Pendidikan dasar terdiri
dari dua tingkat, : dasar dan menengah. Tingkat dasar dimulai dari kelas 1 sampai 3 (siklus
1) dan
kelas 4 sampai 6 (siklus 2). Tingkat menengah adalah kelas 7 sampai 9
(siklus 3). Untuk pendidikan menengahnya terdiri dari kelas 10 sampai 12 (masuk
siklus
4)
Sistem pendidikan di
Lebanon terpusat dan dikelola melalui biro pendidikan daerah
yang berada di bawah naungan kementerian pendidikan. Sekolah umum diawasi oleh biro pendidikan
daerah yang berada di masing-masing distrik atau gubernuran. Biro
pendidikan daerah ini berfungsi sebagai penghubung antara sekolah umum
dan direktorat pendidikan di kantor pusat kementerian pendidikan Lebanon. Sedangkan sekolah swasta
memiliki organisasi sendiri, meski masih tunduk pada otoritas kementerian
pendidikan. Sekolah publik (negeri) dibeayai oleh Kementerian Pendidikan,
sedangkan untuk sekolah swasta dibeayai oleh siswa (sebagian besar orang
tua siswa dari sekolah ini umumnya memiliki perekonomian yang cukup mapan). Sebagian
beaya pendidikan di Lebanon diambil dari dana non-pemerintah seperti bantuan
dari perusahaan-perusahaan swasta hingga badan-badan internasional seperti
Bank Dunia (Word Bank) dan United Nation Development Program (UNDP).
Halo Indonesia!
![]() |
Halo Indonesia!!
|
Dalam kunjungan kami ke Public School di Yarin, banyak kenangan
menarik yang kami dapatkan, terutama bagiku yang jarang memiliki kesempatan
berbincang-bincang dan berkenalan dengan anak-anak Lebanon. Saat kunjungan ke
sekolah yang jaraknya sekitar 45 menit perjalanan dari markas kami di Naqoura,
Lebanon Selatan, anak-anak berusia 5-7 tahun di sekolah ini langsung
menyongsong kedatangan kami. Dengan “malu-malu kucing” didampingi seorang guru
pendamping, mereka mengerubungi kami. Sebagian bertanya dalam bahasa Arab yang
kurang aku mengerti. Sebagian lagi melihat-lihat kamera Nikon yang aku pegang.
Demikian pula kedua rekanku mulai berkenalan dengan anak-anak lucu dengan
bahasa yang aku yakin “tidak menyambung”. Kadang terdengar kata-kata bahasan
Arab dari mulut kecil si anak, kadang bahasa Inggris dengan campuran bahasa
Indonesia dari kedua temanku yang memang seringkali konyol.
Melihat kesempatan yang cukup bagus tersebut aku langsung
mengabadikan aktifitas mereka dalam kamera bawaanku. Kesempatan ini sulit
didapatkan karena pada umumnya warga Lebanon termasuk alergi terhadap kamera.
Namun kali ini tidak. Beberapa kali aku jeprat-jepret mengambil gambar, mereka
senang demikian pula guru pendamping. Ketika aku minta untuk mengucap dua kata
sembari berfoto, “ Halo Indonesia!” mereka pun mau dan menurut. Secara tidak
langsung aku berusaha memasukkan satu kata dalam memori anak-anak tersebut
dengan satu kata baru, “Indonesia” yang aku yakin mereka sendiri bingung, apa
itu Indonesia.
***


Terima kasih atas informasinya, membantu dalam tugas kuliah.. :)
ReplyDeleteSama-sama Mas. Semoga bermanfaat.
Delete