Pada awal Januari 2013, aku
diminta mengantar tiga rekanku (dua orang driver dan satu mekanik) mencari
pengganti sparepart untuk mobil Ford Everest milik satgasku di kota Tyre (kota
terbesar ke-4 di Lebanon) yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari
Markasku di Naqoura, Lebanon Selatan. Sebenarnya aku kurang mengetahui seluk
beluk sparepart mobil, tetapi karena aku diminta mendampingi untuk sekedar
membantu proses komunikasi (bahasa inggrisku dianggap lumayan) maka akhirnya
aku pun berangkat berempat dengan Ford Everest menyusuri jalanan pinggir pantai
sepanjang jalan Naqoura ke pusat kota Tyre.
Tiba di pusat kota Tyre, hari
mulai siang. Suasana jalanan saat itu cukup macet, meski kendaraan tidak
terlalu berjubel seperti di Jakarta. Mobil kami dengan tulisan Unifil di plat
dan body kendaraan ditambah dengan sebuah bendera biru berlogo UN yang dipasang
di belakang, mulai mencari-cari tempat parkir yang kosong. Sembari mencari
parkir di pinggir jalanan kota, aku dan seorang rekanku turun dari mobil dan
mulai bertanya-tanya kepada warga tentang toko atau bengkel yang menyediakan
sparepart mobil Ford Everest.
![]() |
Pengemis kecil di kota Tyre |
Saat aku keluar dari sebuah
toko untuk menanyakan letak toko yang bersangkutan, aku melihat seorang
pengemis dengan pakaian yang khas, kumal, berusia sekitar 10-13 tahun sedang
“merayu” rekanku agar mau memberikan sedekah. Aku mendatangi mereka. Tiba-tiba
si pengemis cilik berubah arah meminta dengan sangat memelas kepadaku sembari
berkata, “ one dolar…. One dolar ……(dilanjutkan dengan kata-kata dalam bahasa
Arab yang tidak aku mengerti). Aku menggeleng sambil memandangnya. Ia tambah
memelas dengan tidak melepaskan kata-kata yang sama, “ one dolar …. One dolar…
“. Aku ragu antara memberi dan tidak. Saat itu, rekanku memberi kode agar aku
tidak memberi sedekah kepadanya. Akhirnya aku menggeleng kembali, sambil
mengajak rekanku mencari sebuah toko sesuai informasi yang aku terima saat aku
bertanya-tanya tadi.
Setelah beranjak dari tempat
tersebut, sang pengemis cilik ini ternyata tetap mengikuti kami dengan
kata-kata memelas yang tidak pernah berubah, “ one dolar …. One dolar (dengan
tambahan kalimat dalam bahasa Arab yang tidak juga aku mengerti)”. Aku tetap
menggeleng. Tetapi ia tidak putus asa untuk selalu “mengejar” kami. Dua rekanku
yang baru bergabung setelah memarkir mobilpun tak luput dari rayuan sang
pengemis cilik. Kami ternyata memiliki pemikiran yang sama, “jangan diberi!”.
Tetapi untuk beberapa lama sang pengemis tetap saja mengikuti kemana saja kami
pergi sehingga kami merasa rikuh (apalagi karena suasana jalanan yang macet
membuat kami menjadi pusat perhatian para pengguna jalan).
Dalam situasi yang kurang
menguntungkan tersebut, seorang warga Kota Tyre berusaha membantu kami mengusir
sang pengemis cilik dengan cara menghardik dengan bahasa Lebanon yang kurang aku
mengerti. Si pengemis cilik itu menurut dan menjauh dari kami. Tetapi ia
kembali mengejar kami sambil tetap mengharapkan kami mau memberinya uang satu
dolar. Aku menghadapinya dengan satu senyuman diiringi gelengan kepala. Si
pengemis akhirnya menyerah dan kami pun bebas dari kejaran sang pengemis cilik.
Dalam hati aku merasa “berdosa” karena tidak bisa memberikan sesuatu yang
mungkin saat itu ia sangat memerlukannya. Tetapi rasa kemanusiaanku termasuk
rekan-rekanku saat itu tertindih oleh seragam yang melekat di baju kami, yakni
seragam UN.
Sebagai manusia, kami tahu
persis, pengemis merupakan orang yang
patut dikasihani. Apalagi bila teringat kata-kata para ulama, bahwa sebagian
dari harta kita adalah “milik” mereka, sehingga dalam beberapa kesempatan kalau
kita bertemu dengan orang-orang yang patut “dikasihani” seperti mereka (asalkan
benar-benar sesuai dengan keadaan mereka yang miskin), tidak segan-segan kita
merogoh kocek untuk mereka.
Namun untuk memberikan
sedikit “uluran tangan” kepada pengemis di daerah penugasan seperti Lebanon
ini perlu ekstra hati-hati karena
beberapa hal. Pertama, kalau kita memberi “uang” kepada mereka maka tak berapa
lama akan “diserbu” oleh pengemis lain (teman-temannya yang sengaja dipanggil/
diundang) yang selanjutnya meminta “sedekah” yang sama. Coba bayangkan, betapa
repotnya kalau sudah dikerubuti para
pengemis yang sebagian diantaranya tidak segan-segan untuk merogoh sendiri
dompet yang ada di saku celana kita. Kejadian ini pernah dialami rekanku (dari
satgas lain) yang “kelabakan” dirubungi
puluhan pengemis, gara-gara ia memberi sedekah satu dolar kepada seorang
pengemis kecil. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah status kami sebagai
pasukan perdamaian dunia yang bernaung di bawah Unifil yang harus memegang teguh
sikap netral dan imparsial. Suatu ketika Unifil pernah mendapatkan klaim dari
Israel gara-gara seorang prajuritnya memberikan “sedekah” kepada seorang
pengemis. Selidik punya selidik, saat sang tentara memberikan sedekah, ternyata terekam oleh salah seorang anggota
LSM Israel yang banyak beroperasi di Lebanon. Hasil jepretan kamera mini
tersebut selanjutnya dipublikasikan yang kemudian berujung dikeluarkannya nota
protes kepada petinggi Unifil di Naqoura.
Pengalaman-pengalaman
tersebut itulah yang membuat aku dan juga rekan-rekanku menjadi “raja
tega”terhadap nasib para pengemis termasuk seorang pengemis kecil yang aku
temui di kota Tyre.
***


Sebenarnya kasihan juga sih Om. cuma 1 dolar!. Tapi kalau kondisinya demikian, memang serba salah. Mau kasih ... salah, tidak ngasih .... juga salah. Selamat bertugas yach om!
ReplyDeleteTerima kasih mas. Salam Garuda!
ReplyDelete