![]() |
Rokok Indonesia (kanan) dan Rokok Unifil (kiri) |
Bagi seorang pecandu
rokok, sehari tidak merokok, mungkin dianggap ada sesuatu yang hilang dalam
hidupnya. Bagi pecandu yang lain, menikmati rokok di luar kesukaannya juga
kurang lebih merasakan hal yang sama, ada sesuatu yang hilang dalam
kehidupannya. Demikian juga dengan kondisi sebagian prajurit TNI yang sedang
melaksanakan penugasan di Lebanon. Memasuki bulan kedua penugasan, di bulan
Februari ini, sebagian prajurit TNI yang sudah “kecanduan” rokok mulai
“bergerilya” mencari rokok alternatif dikarenakan “stok” rokok yang mereka bawa
dari Indonesia sudah habis.
![]() |
Bentuk rokok Uniifil yang kecil |
Bagi perokok
“kelas berat” yang tidak “pilih-pilih” jenis rokok yang mau dihisap, Unifil
menyediakan alternatif pilihan dengan menyediakan rokok “murah meriah”. Dan
alternatif inilah yang akhirnya dipilih sebagian prajurit TNI. Harganya, jangan
kaget! Satu slop rokok (isi 10 bungkus) dengan merk “Allure” jenis super slim harganya
cuma 3 dolar Amerika ! (kalau dirupiahkan Rp. 28.500,- yang berarti untuk
setiap bungkusnya cuma Rp.2.850,-). Rokok murah khas Unifil produksi Jerman ini
juga memiliki kelebihan yakni cukup rendah tar dan nikotinnya. Di dalam
kemasannya yang mungil dengan 3 warna pilihan tercatat
![]() |
Rokok subsidi Unifil, cuma 3 dolar per slop |
nikotinnya cuma 0,6 gr
dan 6 mg tar. Di Indonesia, isi rokok “Allure” ini sekilas mirip rokok
Sampoerna Avolution produksi PT Sampoerna. Perbedaannya hanya pada bungkusnya.
Jika Sampoerna Avolution bentuknya kotak, kecil, panjang dengan diameter batang
kira-kira 5,14 cm dan panjang 100 mm, sedangkan Allure yang menjadi rokok
alternatif prajurit Unifil bentuknya segiempat kecil (seperti Sampoerna Mild). Isinya
pun berbeda untuk perbungkusnya, yakni untuk Sampoerna Avolution 16 batang,
Alure 20 batang. Perbedaan lain yang menyolok, jelas pada harganya. Bila
Sampoerna Avolution Indonesia dijual dengan harga Rp. 12.000,-, tetapi kalau
Allure cuma Rp. 2.850.-. per bungkusnya!.
Harga yang
sangat “miring” tersebut akhirnya benar-benar menjadi pilihan prajurit TNI
terutama bagi perokok berat yang tidak mempermasalahkan merk dan kualitas
rokok. Apalagi selain Allure tersedia juga merk lain yang harganya tidak
berbeda seperti Elegance, Grand dan Three Star yakni 3 dolar per 10 bungkus. “Pada
umumnya kami tidak terlalu mempermasalahkan merk rokok, yang penting keluar
asap. Murah lagi” demikian kata Sertu Wahidin Sutanto, rekanku satu satgas dan
juga satu korimek yang asli Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Ayah dua orang
anak ini mengaku menjadi “kutu loncat “ dari rokok kesukaannya Djarum/
Gudang
Garam kepada Allure Unifil, setelah stok rokok yang dibawa dari Indonesia sejak
akhir Januari lalu habis.
![]() |
PX di Kamp Soedirman, Naqoura |
Meskipun rokok
yang “disediakan” Unifil untuk kesejahteraan prajuritnya di Lebanon sangat
murah, tetapi untuk mendapatkannya harus sesuai dengan prosedur dan aturan yang
berlaku. Unifil hanya menyediakan rokok murah di PX (Post Exchange-di Indonesia
seperti koperasi satuan tetapi dikelola oleh orang luar) yang berada di Markas
Besar Unifil di Naqoura, South Lebanon. Setiap prajurit Unifil (diwakili oleh
ID card masing-masing) hanya berhak membeli maksimal 3 bungkus rokok untuk
jatah 1 bulan. Dengan hanya terkonsentrasi pada satu tempat, maka prajurit
Indonesia yang bertugas di luar Naqoura seperti Indobatt (Batalyon Mekanis
Indonesia) yang markas batalyonnya di Asdith Al Qusyair maupun personel Sempu
(Sector East Military Police) yang bermarkas di Marjayoun, yang jaraknya
sekitar 2-3 jam perjalanan dari Naqoura, terpaksa harus mencari waktu yang
tepat agar bisa berbelanja rokok dengan harga murah ini. Terkadang untuk menyiasati,
mereka berbelanja secara kolektif. Pernah aku temui beberapa personel Indobatt
yang sengaja belanja rokok di PX Unifil Naqoura dengan membawa ID Card
rekan-rekannya sebanyak 80 buah yang berarti 30 x 80 = 240 slop rokok. “ Saya
bawa 80 ID Card untuk tukar rokok bang. Bahkan saya bawa dua mobil untuk
membawa pesanan rokok kawan-kawan kami ini. Lumayan satu slop cuma 3 dolar,
bisa ngirit untuk pengeluaran rokok kami di daerah penugasan Lebanon ini”
demikian kata salah seorang dari mereka ketika aku menanyakan pesanan rokoknya
yang kelewat banyak.
Dji
Sam Soe 3 Dolar
![]() |
Rokok Indonesia yang nilai jualnya cukup tinggi |
Bagaimana dengan
harga rokok produksi asli Indonesia. Harganya ternyata kelewat mahal. Rokok Dji
Sam Soe kretek misalnya, harganya mencapai 3 dolar per bungkusnya. “Dji Sam Soe
cigaretes, if you buy one, three dolars, but if you need two, only five dolars”
demikian kata seorang pemuda Lebanon penunggu PX Indobatt di Asdith Al Qusyair
ketika pada awal Februari lalu aku dan sebagian rekan Satgas berkesempatan
mampir ke markas Indobatt ini. Rokok lain seperti Gudang Garam Filter, U Mild,
Sampoerna Mild, Sampoerna Kretek, Star Mild harganya tak jauh beda, berkisar
antara 2 hingga 3 dolar per bungkusnya. Mahalnya rokok Indonesia itulah yang
akhirnya membuat hampir sebagian besar prajurit TNI yang senang merokok beralih
dengan rokok yang lebih murah, yakni rokok yang disubsidi Unifil seperti merk
Allure, Elegance, Grand, Three Star dan sebagainya.
Meski demikian,
kondisi mahalnya rokok Indonesia ini juga sebagian dimanfaatkan oleh
rekan-rekan Satgas untuk mencoba mengadu untung dengan berbisnis kecil-kecilan.
Teknik yang digunakan, umumnya mereka membawa stok rokok lumayan banyak dari
Indonesia untuk selanjutnya pada bulan kedua atau ketiga, dijual ke PX, rekan
Satgas atau ke personel Satgas lain yang membutuhkan. Serda Mes Suprapto, rekan
satgasku dari Surabaya misalnya. Ia sengaja membawa beberapa slop rokok untuk
“dijual kembali”, padahal ia sendiri bukanlah perokok. Hasilnya lumayan! Dua
slop rokok Gudang Garam Filter (isi 20 bungkus) laku terjual ke rekan-rekan
satgas dari Malaysia dengan harga 200 dolar (sekitar Rp.1.9 juta dengan kurs
Rp.9.500,- untuk satu dolarnya). Padahal modal awal untuk dua slop rokok itu
Cuma sekitar Rp. 800 ribu-an. “ Lumayan bisa dimanfaatkan untuk tambahan beaya
Umroh dan pulang ke Indonesia” kata Bintara Dispen Armatim yang tinggal satu
korimek denganku ini yang berencana umroh dan pulang Indonesia saat pelaksanaan
cuti periode pertama awal April 2013 mendatang. “ Sayang aku cuma bawa dikit,
kalau banyak lumayan juga buat bisnis kecil-kecilan sembari melaksanakan tugas”
lanjutnya sambil tersenyum.
Demikianlah
gambaran kecil tentang perbandingan harga rokok produksi Indonesia dengan rokok
luar negeri yang telah mendapat subsidi dari Unifil yang sebagian pada akhirnya
menjadi alternatif pengganti rokok Indonesia dan juga bisa menjadi moment
bisnis “kecil-kecilan”.
***






mantapp
ReplyDeleteTerima kasih, sekedar berbagi cerita.
DeleteArtikel yg menarik om
ReplyDeleteTks, meski disadari banyak kekurangannya. Sekedar berbagi cerita dan pengalaman.
DeleteTerima kasih mas. Salam Garuda!
ReplyDeleteKalo banwa banyak dari Indo, bisa kena Cukai donk,,, :)hehhee
ReplyDeleteAlhamdulillah aman, yach paling kalau ada yang benar2 minat cari untung paling banyak satu ransel diselipkan di antara pakaian n selama ini aman melewati area security check point yang menggunakan fasilitas XRay di bandara.
DeleteLebih bagus kurangi merokok boss....(kurangi rokok teman-teman maksute)
ReplyDeleteSetuju kang, akan tetapi memang sebaiknya kurangi merokok dalam arti yang sebenarnya, sebelum akhirnya benar-benar berhenti merokok (bagi mereka yang berniat berhenti merokok. Tks
Deleteklo musim dingin cocok tuh di liban jarum 76 mantaaaaapp....., sayang di px Unifil ga ada
ReplyDeleteBetul sekali, bagi perokok Indonesia, Jarum 76, Dji Sam Soe dan rokok kretek lainnya mungkin lebih mantaaap dinikmati saat musim dingin tiba. Rokok kretek produksi Indonesia memang tidak ada di PX Internasional, akan tetapi sebagian dijuali di sejumlah PX Indonesia di Naqoura maupun Indobat. Inipun titipan prajurit yang sengaja bawa dari Indonesia. Tks atensinya.
DeleteCerita yang sangat menarik pak,
ReplyDeletePadahal cerita rokok doank tapi ane baca sampe kelar,. hahaha
Bakat jadi jurnalis nih pak, sampe panjang rokoknya saja sampe detik ukurannya hheehhe,
Tks atas kunjungan ke blog yang sederhana ini. Saya selalu berusaha menuturkan apa yang saya lihat di lapangan, termasuk hal yang kecil-kecil. Dan mungkin ini salah satu gaya penuturan saya.
DeleteWahhh... ini benar2 jurnal prajurit langsung dari temat kejadian.
ReplyDeletePerlu diberi 2 jempol!
Terima kasih atas pujiannya. Akan tetapi saya akui masih banyak kekurangannya shg perlu masukan dari siapa saja yang peduli dengan tulisan saya.
DeleteGak ada pohon kluwih atau sukun ya pak..... Ingat masa kecil blajar ngrokok pakai onthel, calon buah yang gak jadi, kering.... Bisa jadi alternatif lain djamin gratis.. Salam
ReplyDeleteSepengetahuan saya di Lebanon tidak ada pohon kluwih atau sukun. Padahal betul juga, kalau ada bisa untuk rokok alternatif, mungkin lebih "aman" ketimbang rokok beneran yang isiannya cukup berbahaya bagi kesehatan manusia. Tks
Deletewahh ada juga prajurit malaysia yang suka rokok indonesia ..hahaha bagus,,bagus
ReplyDeleteBetul mas, mereka paling hobi rokok Indonesia apalagi Gudang Garam Filter. Rasanya luar biasa ......... katanya
Deleteapa bisa d jual d indo pak rokokya,pasti byak peminatnya,karna skarng dri plosok2 desa senang yg murah2...?
DeleteNggak bisa mas. Sesuai aturan seharusnya malah tidak boleh dibawa pulang. Tks
DeleteCHIP SAKTI
ReplyDeletePULSA MURAH
Ah, beli tembakau aja ma cengkeh trus linting sendiri deh, dijamin lebih awet:D
ReplyDeleteKarena males lintingnya hahaha
Setuju mas, enakkan linting sendiri. Kekurangannya cuma males lintingnya.......
DeleteRokok itu penyakit tp kok kaya mengasyikan gitu loh:D
ReplyDeleteBetul, semua perokok umumnya menyadari dan mengetahui bahaya rokok, akan tetapi tetap saja mengisapnya. Itu semua karena efek "candu" rokok. Tks atensinya.
Deletetapi aneh,kakak sepupuku yg di pelayaran ikut kapal luar wlw ga ngrokok ga minat jualan rokok disana,malah sering bawa rokok camel dan sedulurnya ke indo,soalnya rokok ga beli jatah kapal untuk kru kapal
ReplyDeleteBukan sesuatu yang aneh mas, tergantung orangnya juga. Hanya orang2 tertentu yang mau melakukan itu. Dalam Satgas kami dengan jumlah personel mencapai 1.169 orang, satu atau dua orang yang "nyambi" bisnis tersebut adalah sesuatu yang wajar. Tks atensinya.
DeleteMembayangkan suasana di lebanon waktu malam, emang enaknya ditemani djarus super dan secangkir kopi, sambil memandangi langit dan mrenungi diri :D Djarum Super neng lebanon piro mas ?
ReplyDelete