Sunday, February 17, 2013

Catatan Ke-21 : Mahalnya Rokok Indonesia, Murahnya Rokok Unifil


Rokok Indonesia (kanan) dan Rokok Unifil (kiri)


          Bagi seorang pecandu rokok, sehari tidak merokok, mungkin dianggap ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Bagi pecandu yang lain, menikmati rokok di luar kesukaannya juga kurang lebih merasakan hal yang sama, ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Demikian juga dengan kondisi sebagian prajurit TNI yang sedang melaksanakan penugasan di Lebanon. Memasuki bulan kedua penugasan, di bulan Februari ini, sebagian prajurit TNI yang sudah “kecanduan” rokok mulai “bergerilya” mencari rokok alternatif dikarenakan “stok” rokok yang mereka bawa dari Indonesia sudah habis.

Bentuk rokok Uniifil yang kecil

 Bagi perokok “kelas berat” yang tidak “pilih-pilih” jenis rokok yang mau dihisap, Unifil menyediakan alternatif pilihan dengan menyediakan rokok “murah meriah”. Dan alternatif inilah yang akhirnya dipilih sebagian prajurit TNI. Harganya, jangan kaget! Satu slop rokok (isi 10 bungkus) dengan merk “Allure” jenis super slim harganya cuma 3 dolar Amerika ! (kalau dirupiahkan Rp. 28.500,- yang berarti untuk setiap bungkusnya cuma Rp.2.850,-). Rokok murah khas Unifil produksi Jerman ini juga memiliki kelebihan yakni cukup rendah tar dan nikotinnya. Di dalam kemasannya yang mungil dengan 3 warna pilihan tercatat

Rokok subsidi Unifil, cuma 3 dolar per slop

nikotinnya cuma 0,6 gr dan 6 mg tar. Di Indonesia, isi rokok “Allure” ini sekilas mirip rokok Sampoerna Avolution produksi PT Sampoerna. Perbedaannya hanya pada bungkusnya. Jika Sampoerna Avolution bentuknya kotak, kecil, panjang dengan diameter batang kira-kira 5,14 cm dan panjang 100 mm, sedangkan Allure yang menjadi rokok alternatif prajurit Unifil bentuknya segiempat kecil (seperti Sampoerna Mild). Isinya pun berbeda untuk perbungkusnya, yakni untuk Sampoerna Avolution 16 batang, Alure 20 batang. Perbedaan lain yang menyolok, jelas pada harganya. Bila Sampoerna Avolution Indonesia dijual dengan harga Rp. 12.000,-, tetapi kalau Allure cuma Rp. 2.850.-. per bungkusnya!.
Harga yang sangat “miring” tersebut akhirnya benar-benar menjadi pilihan prajurit TNI terutama bagi perokok berat yang tidak mempermasalahkan merk dan kualitas rokok. Apalagi selain Allure tersedia juga merk lain yang harganya tidak berbeda seperti Elegance, Grand dan Three Star yakni 3 dolar per 10 bungkus. “Pada umumnya kami tidak terlalu mempermasalahkan merk rokok, yang penting keluar asap. Murah lagi” demikian kata Sertu Wahidin Sutanto, rekanku satu satgas dan juga satu korimek yang asli Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Ayah dua orang anak ini mengaku menjadi “kutu loncat “ dari rokok kesukaannya Djarum/

PX di Kamp Soedirman, Naqoura

Gudang Garam kepada Allure Unifil, setelah stok rokok yang dibawa dari Indonesia sejak akhir Januari lalu habis.
Meskipun rokok yang “disediakan” Unifil untuk kesejahteraan prajuritnya di Lebanon sangat murah, tetapi untuk mendapatkannya harus sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku. Unifil hanya menyediakan rokok murah di PX (Post Exchange-di Indonesia seperti koperasi satuan tetapi dikelola oleh orang luar) yang berada di Markas Besar Unifil di Naqoura, South Lebanon. Setiap prajurit Unifil (diwakili oleh ID card masing-masing) hanya berhak membeli maksimal 3 bungkus rokok untuk jatah 1 bulan. Dengan hanya terkonsentrasi pada satu tempat, maka prajurit Indonesia yang bertugas di luar Naqoura seperti Indobatt (Batalyon Mekanis Indonesia) yang markas batalyonnya di Asdith Al Qusyair maupun personel Sempu (Sector East Military Police) yang bermarkas di Marjayoun, yang jaraknya sekitar 2-3 jam perjalanan dari Naqoura, terpaksa harus mencari waktu yang tepat agar bisa berbelanja rokok dengan harga murah ini. Terkadang untuk menyiasati, mereka berbelanja secara kolektif. Pernah aku temui beberapa personel Indobatt yang sengaja belanja rokok di PX Unifil Naqoura dengan membawa ID Card rekan-rekannya sebanyak 80 buah yang berarti 30 x 80 = 240 slop rokok. “ Saya bawa 80 ID Card untuk tukar rokok bang. Bahkan saya bawa dua mobil untuk membawa pesanan rokok kawan-kawan kami ini. Lumayan satu slop cuma 3 dolar, bisa ngirit untuk pengeluaran rokok kami di daerah penugasan Lebanon ini” demikian kata salah seorang dari mereka ketika aku menanyakan pesanan rokoknya yang kelewat banyak.

Dji Sam Soe 3 Dolar

Rokok Indonesia yang nilai jualnya cukup tinggi


     Bagaimana dengan harga rokok produksi asli Indonesia. Harganya ternyata kelewat mahal. Rokok Dji Sam Soe kretek misalnya, harganya mencapai 3 dolar per bungkusnya. “Dji Sam Soe cigaretes, if you buy one, three dolars, but if you need two, only five dolars” demikian kata seorang pemuda Lebanon penunggu PX Indobatt di Asdith Al Qusyair ketika pada awal Februari lalu aku dan sebagian rekan Satgas berkesempatan mampir ke markas Indobatt ini. Rokok lain seperti Gudang Garam Filter, U Mild, Sampoerna Mild, Sampoerna Kretek, Star Mild harganya tak jauh beda, berkisar antara 2 hingga 3 dolar per bungkusnya. Mahalnya rokok Indonesia itulah yang akhirnya membuat hampir sebagian besar prajurit TNI yang senang merokok beralih dengan rokok yang lebih murah, yakni rokok yang disubsidi Unifil seperti merk Allure, Elegance, Grand, Three Star dan sebagainya.

Meski demikian, kondisi mahalnya rokok Indonesia ini juga sebagian dimanfaatkan oleh rekan-rekan Satgas untuk mencoba mengadu untung dengan berbisnis kecil-kecilan. Teknik yang digunakan, umumnya mereka membawa stok rokok lumayan banyak dari Indonesia untuk selanjutnya pada bulan kedua atau ketiga, dijual ke PX, rekan Satgas atau ke personel Satgas lain yang membutuhkan. Serda Mes Suprapto, rekan satgasku dari Surabaya misalnya. Ia sengaja membawa beberapa slop rokok untuk “dijual kembali”, padahal ia sendiri bukanlah perokok. Hasilnya lumayan! Dua slop rokok Gudang Garam Filter (isi 20 bungkus) laku terjual ke rekan-rekan satgas dari Malaysia dengan harga 200 dolar (sekitar Rp.1.9 juta dengan kurs Rp.9.500,- untuk satu dolarnya). Padahal modal awal untuk dua slop rokok itu Cuma sekitar Rp. 800 ribu-an. “ Lumayan bisa dimanfaatkan untuk tambahan beaya Umroh dan pulang ke Indonesia” kata Bintara Dispen Armatim yang tinggal satu korimek denganku ini yang berencana umroh dan pulang Indonesia saat pelaksanaan cuti periode pertama awal April 2013 mendatang. “ Sayang aku cuma bawa dikit, kalau banyak lumayan juga buat bisnis kecil-kecilan sembari melaksanakan tugas” lanjutnya sambil tersenyum.
Demikianlah gambaran kecil tentang perbandingan harga rokok produksi Indonesia dengan rokok luar negeri yang telah mendapat subsidi dari Unifil yang sebagian pada akhirnya menjadi alternatif pengganti rokok Indonesia dan juga bisa menjadi moment bisnis “kecil-kecilan”.
***

29 comments:

  1. Artikel yg menarik om

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks, meski disadari banyak kekurangannya. Sekedar berbagi cerita dan pengalaman.

      Delete
  2. Kalo banwa banyak dari Indo, bisa kena Cukai donk,,, :)hehhee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah aman, yach paling kalau ada yang benar2 minat cari untung paling banyak satu ransel diselipkan di antara pakaian n selama ini aman melewati area security check point yang menggunakan fasilitas XRay di bandara.

      Delete
  3. Lebih bagus kurangi merokok boss....(kurangi rokok teman-teman maksute)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju kang, akan tetapi memang sebaiknya kurangi merokok dalam arti yang sebenarnya, sebelum akhirnya benar-benar berhenti merokok (bagi mereka yang berniat berhenti merokok. Tks

      Delete
  4. klo musim dingin cocok tuh di liban jarum 76 mantaaaaapp....., sayang di px Unifil ga ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, bagi perokok Indonesia, Jarum 76, Dji Sam Soe dan rokok kretek lainnya mungkin lebih mantaaap dinikmati saat musim dingin tiba. Rokok kretek produksi Indonesia memang tidak ada di PX Internasional, akan tetapi sebagian dijuali di sejumlah PX Indonesia di Naqoura maupun Indobat. Inipun titipan prajurit yang sengaja bawa dari Indonesia. Tks atensinya.

      Delete
  5. Cerita yang sangat menarik pak,
    Padahal cerita rokok doank tapi ane baca sampe kelar,. hahaha


    Bakat jadi jurnalis nih pak, sampe panjang rokoknya saja sampe detik ukurannya hheehhe,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks atas kunjungan ke blog yang sederhana ini. Saya selalu berusaha menuturkan apa yang saya lihat di lapangan, termasuk hal yang kecil-kecil. Dan mungkin ini salah satu gaya penuturan saya.

      Delete
  6. Wahhh... ini benar2 jurnal prajurit langsung dari temat kejadian.
    Perlu diberi 2 jempol!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pujiannya. Akan tetapi saya akui masih banyak kekurangannya shg perlu masukan dari siapa saja yang peduli dengan tulisan saya.

      Delete
  7. Gak ada pohon kluwih atau sukun ya pak..... Ingat masa kecil blajar ngrokok pakai onthel, calon buah yang gak jadi, kering.... Bisa jadi alternatif lain djamin gratis.. Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepengetahuan saya di Lebanon tidak ada pohon kluwih atau sukun. Padahal betul juga, kalau ada bisa untuk rokok alternatif, mungkin lebih "aman" ketimbang rokok beneran yang isiannya cukup berbahaya bagi kesehatan manusia. Tks

      Delete
  8. wahh ada juga prajurit malaysia yang suka rokok indonesia ..hahaha bagus,,bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, mereka paling hobi rokok Indonesia apalagi Gudang Garam Filter. Rasanya luar biasa ......... katanya

      Delete
    2. apa bisa d jual d indo pak rokokya,pasti byak peminatnya,karna skarng dri plosok2 desa senang yg murah2...?

      Delete
    3. Nggak bisa mas. Sesuai aturan seharusnya malah tidak boleh dibawa pulang. Tks

      Delete
  9. Ah, beli tembakau aja ma cengkeh trus linting sendiri deh, dijamin lebih awet:D
    Karena males lintingnya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, enakkan linting sendiri. Kekurangannya cuma males lintingnya.......

      Delete
  10. Rokok itu penyakit tp kok kaya mengasyikan gitu loh:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, semua perokok umumnya menyadari dan mengetahui bahaya rokok, akan tetapi tetap saja mengisapnya. Itu semua karena efek "candu" rokok. Tks atensinya.

      Delete
  11. tapi aneh,kakak sepupuku yg di pelayaran ikut kapal luar wlw ga ngrokok ga minat jualan rokok disana,malah sering bawa rokok camel dan sedulurnya ke indo,soalnya rokok ga beli jatah kapal untuk kru kapal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan sesuatu yang aneh mas, tergantung orangnya juga. Hanya orang2 tertentu yang mau melakukan itu. Dalam Satgas kami dengan jumlah personel mencapai 1.169 orang, satu atau dua orang yang "nyambi" bisnis tersebut adalah sesuatu yang wajar. Tks atensinya.

      Delete
  12. Membayangkan suasana di lebanon waktu malam, emang enaknya ditemani djarus super dan secangkir kopi, sambil memandangi langit dan mrenungi diri :D Djarum Super neng lebanon piro mas ?

    ReplyDelete